Filed under Teknologi Pangan

Susu plus Jus apel di hotel kok Ngendap ??

Susu mengendap

Susu mengendap dicampur jeruk

Setelah lama tidak posting tentang Ilmu Pangan, akhirnya malam ini aku tergelitik untuk posting lagi.

Adalah pertanyaan bang Thenu ketika annual meeting di Ancol kemarin yang menggelitik rasa ingin menulisku. Kemarin di saat sarapan menunggu H3 meeting, saya mengambil jus apel dari sajian yang dihidangkan. Baru diminum sedikit eh ternyata ga enak, karena rasanya ada yang nyegak di tenggorokan (prediksiku karena terlalu banyak penambahan Kalium sorbat), alhasil saya tambahkan saja dengan susu dengan harapan dapat menetralkan rasa tidak enaknya.

Eh tiba-tiba minumannya jadi aneh, jadi timbul gumpalan-gumpalan tak larut, seperti yoghurt pada minuman oplosan tadi. 

“Kok bisa gitu ya kan, bahaya ga sih? kaya susu basi” , tanya bang Thenu.

Dan insting teknologi panganku (yang selama ini sudah koma) pun muncul…

Kupi readers, hal yang sama pun akan terjadi kalo kita mencampur susu dengan buah-buahan asam seperti jeruk, lemon dsb, juga kalo dicampur minuman asam seperti Nut**Sa** dan sejenisnya.

Kunci jawabannya ada pada “Sifat Protein Susu”. Well agak panjang untuk menjelaskannya detail teknisnya, however saya akan susun dari yang umum ke yang lebih spesifik agar kupi readers bisa memutuskan whether mau melanjutkan atau berhenti. Toh kalo emang mau put more effort untuk baca ampe habis, nanti pada tau deh pada akhirnya fenomena ini related sama proses pembuatan Keju dan Yoghurt (dan susu basi).

Let’s rock…

Protein susu akan mengendap (atau dalam bahasa ilmiahnya terdenaturasi) pada lingkungan asam karena bersifat tidak stabil (isoelectric) pada pH asam dibawah 4.6 (susu ber pH 6.6) .  Pengendapan ini terjadi karena sejatinya pada kondisi normal molekul protein ini bermuatan negatif sehingga saling tolak menolak antar partikelnya sehingga tidak mengendap. Kondisi pH asam, dimana terdapat banyak kandungan bermuatan positif,  melucuti sifat negatif protein tersebut yang berujung pada penyatuan antar partikel dan pengendapan protein susu.

Lebih detail lagi, sebagai informasi, protein susu secara garis besar terdiri dari dua golongan yaitu Casein (80%) dan Whey (20%). Yang disebut kedua, sifatnya larut dalam air dalam kondisi ekstrim sekalipun, sehingga mari kita lupakan sejenak bagian whey ini walaupun di sana terdapat Immunoglobulin yang sangat bermnafaat bagi ketahanan tubuh.

Lets we focus on protein Casein karena dari sinilah keju berasal  eh karena inilah yang paling berperan dalam pengendapan susu. Casein memang sejatinya bersifat tidak larut air (hidrofobik), thank to partikel bernama Misel yang bersifat surfaktan (dapan larut pada lemak dan air) yang menempel pada casein sehingga “menjinakkan” sifat anti airnya. Misel ini memiliki dua permukaan, yaitu permukaan Hidrofobik yang menempel pada casein dan bagian hidrofilik yang bergabung dengan kandungan air pada susu sehingga dapat larut dalam susu.  Nah terdapatnya banyak ion H+ pada kondisi pH asam lah yang membuat Misel ini kehilangan kemampuan nya dalam mengengkapsulasi casein yang hidrofobik.

Jadi proses pengendapan ini bersifat alami dan tidak berbahaya sama sekali (kecuali kalo susunya meman basi).

Kemudian apa hubungannya casein dengan Yoghurt dan Keju (dan susu basi)?

Nah, hal yang sama terjadi pada yoghurt, bedanya kalo pada penambahan jeruk atau buah-buahan lain, yang menimbulkan asam (menurunkan pH) adalah asam sitrat atau propionat, kalau pada yoghurt sang pengasam adalah mostly asam laktat. Asam laktat ini adalah hasil metabolime sekunder dari golongan bakteri Lactobacillus yang memang sengaja diintroduksikan pada susu (starter). Keasaman yang ditimbulkan sudah lebih dari cukup untuk mengendapkan semua casein susu dan secara bersamaan menghasilkan citarasa asam pada susu (ada ga yah yoghurt yg ga asem).

hal hampir mirip terjadi pada susu basi, bedanya bakteri yang berperan lebih beraneka ragam karena tidak terkontrol (bukan starter). Bakteri2 ini pun mengeluarkan asam-asam yang mendenaturasi protein. Sebenarnya susu yang mengendap itu tidak berbahaya, tapi yang bahaya adalah zat-zat sampingan lain yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri tak terkontrol itu, karena selain asam mereka biasanya mengeluarkan toksin-toksin yang bisa membuat kita mencret.

Sedangkan pada Keju ceritanya serupa tapi tak sama. Serupa karena sama-sama berasal dari pengendapan casein. Namun tak sama karena mekanismenya sedikit berbeda. Pada keju, denaturasi yang terjadi bukan menggunakan perubahan pH namun karena penambahan enzym protease (zat yang dapat memotong molekul protein) seperti rennet atau chymosin. Enzym ini meotong-motong ikatan peptida casein yang menyebabkan protein menjadi tak stabil dan akhirnya mengendap. Dengan penambahan proses selanjutnya, yang terlalu berat untuk dijelaskan, jadilah ia keju nikmat yang biasa kita santap.

Huff… selesai juga penjelasanku, susah memang menjelaskan hal teknis dengan cara sederhana, dan tampaknya aku gagal he3x… selamat pusing deh bacanya, soalnya yang nulis juga pusingg….

C..U.. Kupi readers…

Yang Instan yang Mematikan (become STp part 1)

Dear dy, rangkaian artikel “Become STp” aku dedikasikan karena tragedi sidang kompre ku, dibantai sama 3 dosen dan diakhiri dengan kata “Kamu ini mau jadi sarjana teknologi pangan bukan sarjana ilmu komputer” hiks3x. Iya sih aku mau share tentang pangan ahh..
Rekan-rekan pernahkah Anda mengkonsumsi makanan dalam kaleng?kalo belum maka Anda patut dikasihani, kalo udah dan Anda masih idup.. mendingan baca artikel ini sebelum konsumsi makanan kaleng Anda berikutnya…
Alkisah sebutlah si Otong (bukan nama sebenarnya, dan emang sedikit org yg mau dinamain otong) pergi ke sebuah supermarket di bilangan Babakan Raya Bogor. Dia kelaperan dan mulai memilih2 makanan. Karena dia adalah anak teknologi pangan dan punya idealisme untuk hanya mengkonsumsi makanan yang sehat maka ia enggan membeli Mie instant dan lebih memilih momogi.. (nah lho) ga deng dia mau membeli ikan, karena katanya ikan membuat otak pintar. Dan ia pun membeli sarden kaleng dengan merk yang sangat terkenal… tepatnya terkenal dengan harga murahnya.

Sesampainya di kosan ia langsung menkonsumsi makanan kaleng itu biar kaya orang2 barat yang lagi piknik. Selain itu ia teringat ucapan Pak Feri (dosen pengalengan pangannya) yang bilang kalo produk kaleng pasti telah disterilisasi jadi dia simpulin pasti aman tuk langsung di konsumsi.Suapan pertama begitu menggoda (maksudnya menggoda temen kosan tuk nyerbu) dan suapan berikutnya pun dinikmati hingga tulang ikannya pun dimakan (secara emang sarden tulangnya dimakan).

Keesokan harinya si Otong menjalankan aktivitas joggingnya di pagi hari seperti biasa. Namun entah kenapa pagi ini dia merasa agak lemas.. putaran pertama gww dia masih sanggup, kedua mulai loyo, hingga puncaknya di putaran ketiga dia terjatuh lemas, terkulai tak berdaya… teman2nya pun mulai panik dan langsung membawa otong ke rumah sakit. Selama perjalanan otong tak dapat bergerak sama sekali kecuali untuk menjentikkan matanya.

Sesampainya di RS orang2pun panik menanti di luar kamar pasien, ada yang panik akan kondisi otong, namun tak sedikit pula yang panik tentang biaya perawatan si Otong nanti, karena mereka udah ga punya duit seentara orang tua otong nun jauh di sana. Di tengah kepanikan itu sang dokter pun keluar dan berkata…
“Hmm saudara Otong terkena racun Botulin, sejenis neurotoxin dari bakteri Clostridium botulinum”, nah semua orang pun kaget (walaupun tidak ada satupun dari mereka yang mengerti), duh gimana nasib si otong ya???

Akhirnya temen2 otong pun, si Acuy dan Babah pergi ke perpustakaan kampus, dan membuka Buku Food Microbiology karangan Ray dengan nomor buku 577.1. Ais baca buku itu i Acuy pun dengan pede membuat analisis masalah sbb :

“Keracunan Otong adalah akibat makanan kalengnya yang dikonsumsi kemarin bah, soalnya yang namanya Clostridium botulinum (seperti dibilang pak Dokter) itu adalah tipe bakteri anaerobik yang artinya jarang olahraga aerobik..eh salah maksudnya dia hidup dalam kondisi yang kedap oksigen, dan kaleng tertutup adalah kondisi ideal bagi pertumbuhannya. Apalagi produk ikan punya pH yang tinggi, di atas 4,6 dimana kondisi seperti itulah yang sangat mendukung pertumbuhan bakteri pathogen ini.

“Lho tapi kan kalengnya sudah disterilisasi, kok masih idup tu bakteri”, si babah bales tanya..

“Justru itu bah, ternyata ni bakteri jenis termofil, alias kuat panas…terlebih dalam bentuk sporanya, jadi kalo dikit aja tu proses sterilisasi salah atau kurang suhu atau waktunya ..sangat mungkin tu spora bakteri masih idup, dan pada kondisi ideal kemudian bisa germinasi kembali menghasilkan sel vegetatif nya bah”, Acuy menjelaskan

“Wuihh kejam amet tu bakteri mentang2 kuat bikin org menderita kaya Israel ajah…”

“Bukan cuy, bukan bakterinya yang bikin si Acuy sakit ampe ga bisa gerak gitu, sebenarnya biar tu bakteri masuk ke badan dia, dia ga bakal sakit, penyebab sebenarnya adalah metabolit sekunder atawa racun yang dikeluarin tu bakteri, namanya Racun Botulin”

“Jangan2 tu racun yang bikin si Otong kakuga bisa gerak?”

“Iya bah, kali ini kamu pinter.. ni racun botulin masuk jenis racun yang namanya neurotoxin alias racun syaraf, cara kerjanya cukup rumit ampe bisa bikin otong kaku gitu”

“Rumit gimana Cuy?jelasin dong..”

“Begini bah, jadi secara struktur, toxin botulin itu tadalah protein tepatnya adalah 2 rantai besar polipeptida yang terhubung melalui ikatan sulfida dengan satu rantai molekul berbobot ringan. Nah molekul berbobot ringan ini adalah sebuah enzim tepatnya protease yang mampu menyerang protein “SNAP-25″ pada persimpangan jaringan syaraf dendrit dan akson..inget pelajaran SMA ga lo? nah dengan rusaknya protein “SNAP-25″ akhirnya mencegah vesikel tuk mencapai membran akson dan melepaskan asetilkolin ke dendrit. kondisi inilah yang menyebabkan efek flaccid paralisis alias kaku lemas”

“Ohh gitu kenapa si otong jadi kaya patung gitu..”

“Emang lo ngerti apa yang gw bilang tadi bah?”, tanya si Acuy

“Kagak sih he3x.. trus gimana dong, masa kita ga boleh makan makanan kaleng lagi?”

“Bukannya ga boleh bah, tapi kita harus cermat.. pertama pilih produk dari produsen yang udah jelas komitmen keamanan pangannya lebih disarankan lagi yang sudah menerapkan HACCP, mahal dikit ga pa2 kan dari pada lo sakit..”

“Apaan tuh HACCP?”

“Udah ntar gw jelasin, yang penting ni jurus kedua yang paling mantab, pastikan makanan kaleng yang kita beli itu trus dipanaskan dulu alias dimasak, soalnya ternyata racun otulin itu termasuk yang kelas termo labile alias kagak kuat panas, jadi ga usah sok niru2 orang barat..kita cari amannya ada bah…”

“Oh igitu ya, lagian kalo angetkan lebih enak ya cuy”

“Iya…makanya.. masak dulu aja ya…

BREBET..BREBETT..Duh Mencret, berdarah lagi (Become STP part 2)

Hayooo.. siapa yang pernah, mengalami menakutkan (dan menjijikan) hal kaya di atas?? NGAKU!! (Ih maksa deh)…
Ya udah kalo ga mau ngaku..pokok’e kalo yang pernah mengalami hal kaya gitu,entah abis makan hamburger; daging; buah atau sayuran,  lu olang halus ati-ati, soalnya ada indikasi lu  mengalami salah satu penyakit KERACUNAN PANGAN yang disebut Diarhea Haemorrhagic (alias mencret bedarah) yang disebabkan oleh Eschericia coli O157:H7.
Apaan tu Eschericia coli O157:H7? kalo E.coli doang si pernah denger waktu SMA
Iya emang, E.coli sejatinya adalah microflora normal dalam saluran pencernaan kita, tapi O157:H7 sodara deketnya dari pihak bapak (nah lho).. E.coli tipe ini adalah termasuk mikroba yang patogen (merugikan) bagi tubuh karena dapat memproduksi  racun djang namanya Verotoxin (shiga-like toxin).
Verotoxin? kaya nama temen gw tuh
Kalo emang kaya nama temen lo berarti kasian ya temen lo soalnya nama Vero itu di ambil dari nama salah satu sel pada hewan monyet di Afrika yang pertama ditemukan terserang penyakit ini.
hi3x, kasian si vero.. trus emangnya ni racun ngapain tubuh kita?
Nah ini dia bagian paling seru bro, biokimianya.. begini. racun verotoxin tu termasuk kelompok protein, ni racun punya dua sisi aktif yang dapat berikatan dengan molekul lain. Nah ketika masuk kedalam tubuh kita dan mengalir dalam pembuluh darah, racun ini akan menempel pada beberapa bagian endothelium (permukaan dalam pembuluh darah) dan merusaknya. Nah keadaan ini terbaca oleh trombosit (platelet) yang langsung menempel pada endotelium yang dirusak itu untuk menyembuhkan. Nah karena serangannya terjadi serentak di banyak bagian maka terjadi penurunan jumlah platelet yang cukup signifikan. Nah hal ini lah yang menyebabkan terganggunya sistem pembekuan darah sehingga terjadi pendarahan dalam yang akhirnya keluar bersamaan dengan “mencret” kita. Kalo dibiarin aja malah bisa menyebabkan kematian lho..!!
Anjrit.. mati gara2 mencret.. kagak gengsi amet..!!
Iya soalnya penempelan trombosit pada endhotelium yang rusak dapat menyebabkan gumpalan darah. Nah gumpalan ini akan mengeras dan menyempitkan aliran darah. Hal ini diperparah dengan banyaknya eritrosit (sel darah merah) yang “menabrak” gumpalan ini dan ecah. Kondisi ini bikin aliran darah melambat secara drastis dan berpotensi anemia. Alran darah yang lambat ini akan berefek signifikan pada organ-organ yang secara kritis tergantung pada aliran nutrisi dalam darah seperti ginjal. Nah emang yang jadi korban terbesar adalah ginjal kita, kondisi ini disebut Hemolisis Urinary Sindrome yang biasanya menyebabkan kematian khususnya pada anak2…
Terus gw harus gimana dong??
Paling aman ya lo harus pilih2 makanan yang sehat dan aman dong. Biasanya ni mikroba ada di makanan olahan kaya daging hamburger, sosis tapi ada juga di beberapa sayuran. Kalo mau lebh yakin pastiin makanan yang lo makan tuh udah dipanasin soalnya secara ni verotoxin merupakan protein maka pasti akan terdenaturasi (rusak) dengan suhu tinggi. Yang jelas sih masakan mama pasti yang paling aman kan?…

Ada yang pernah nyobain Es Jus Daging (become Sarjana Teknologi Pangan part 3)

Baru datang ke rumah, eh langsung diminta ema tuk nemenin ke pasar, apes deh. Awalnya si ga mau tapi aku tau banget kalo saudara2 k yang lain pun pasti ga mau karena alesan males atau malu, secara emang aku ga punya saudara perempuan. Dengan setengah hati akhirnya aku tak menolak permintaan ema, padahal di luar masih sedikit gerimis setelah hujan lebat, dan kalo ujan dapat dipasttin sepulang nanti kakiku pasti berlumuran lumpur pasar. Tapi its oke lah..

Eh di pasar ada yang unik (atau mungkin ga unik kali ya, aku aj yg jarang ke pasar), jadi tu ceritanya abis ema beli daging sapi setengah kilo seharga 30.000, trus ema pergi ke tempat penggilingan daging di pasar soalnya tu daging mau di sulap jadi baso wat keluarga di rumah. Trus gw terkagum2 dan lansung ngambil video pake K630i tersayang, gw terkesan oleh dua hal di tempat penggilingan daging itu (liat dulu video di atas) :

1. Gilee.. ada juga penggilingan daging pake kuter (cutter) ya di pasar “becek” tradisional kaya gini…
2. Kok ngegilingnya pake cara ditambahin es pula, mau bikin es jus dagng apa ya.. canggih banget..

Untuk keanehan pertama aku ga mau comment, coz kesannya norak banget kaya baru sekali ke pasar becek,

Nah untuk keanehan kedua ini yang mau gw kupas abis, kenapa gw bilang “Canggih banget”?, karena ni olang djang ngegiling pasti pernah ikut kuliahnya Pak Joko (Dosen Teknologi Pengolahan daging gw di Teknologi Pangan IPB), soalnya dia tau tuh kalo yang namanya bikin sosis, nugget, baso dan rekan-rekan olahan daging wajibul kudu make es batu pada proses ngegiling daging. Kenapa begini kenapa begitu?

Dari jaman SMA pasti dah tau kan kalo protein penyusun daging tuh namanya Myofibril, nah ni protein dalam lingkup pengolahan daging (sebagaimana juga protein lain) berfungsi sekaligus sebagai emulsifier.

Apa itu emulsifier ? (duh ya ga tau pasti kimia SMA nya payah ya)

Begini lho.. emulsifier itu yang bisa menyatukan antara minyak dan air, nah di daging juga kan ada lemaknya.. tentu juga ada airnya, nah kalo ni ni protein ga ada maka di jamin tu lemak ga bakal nyatu sama emulsi daging, alhasil pada emulsi daging yang dihasilkan nanti akan terlihat globula-globula lemak berwarna putih di permukaannya (pernah liat daging cincang kan?). Tentu hal tersebut tidak diinginkan oleh para food technologist di bidang pengolahan daging, oz konsumen juga ga suka.

Nah trus apa hubungannya sama Es batu yang dimasukkin?

Begini lho, selama proses penggilingan, gesekan antara daging dan pisau kuter yang sangat cepat akan menghasilkan panas. Nah panas ini yang dapat membuat protein daging terdenaturasi, alhasil fungsi emulsifiernya pun terancam hilang dan emulsi yang terbentuk tidak sempurna. Selama proses penggilingan, suhu emulsi tidak boleh lebih dari 11 derjat celcius, malah kondisi idealnya 4 derajat, makanya penambahan es batu menjadi sangat penting. Begitu Loch..!

Nah pinter kan tukang daging giling di pasar itu….

Nutrigenomik, Diet Sehat Berdasarkan DNA Anda

Masyarakat dewasa ini semakin meyakini bahwa melalui konsumsi makanan mereka bisa memelihara kesehatan dan menghindarkan diri dari risiko menderita sakit. Mereka yang berusaha mengendalikan kadar kolesterol darah berusaha menghindari lemak hewani. Yang ingin menjaga struktur tulang yang kokoh akan mengutamakan, misalnya, mengonsumsi susu sebagai sumber kalsium. Yang ingin mencegah risiko kanker usus besar (kolon) akan mengonsumsi makanan berserat. Yang ingin mengendalikan berat badan akan memperhatikan nilai kalori makanannya.

Pemahaman masyarakat tersebut muncul karena advokasi atau rekomendasi dari para ahli berbagai asosiasi profesi yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Rekomendasi tersebut disebarluaskan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui konsumsi makanan. Namun, masyarakat juga sering bingung ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa jenis makanan yang sama dikonsumsi oleh individu yang berbeda menimbulkan efek yang berbeda pula.

Hal yang kurang disadari adalah walaupun secara genetik memiliki kesamaan hingga 99,9 persen, semua manusia masih menyisakan 0,1 persen perbedaan yang justru menjadi pembeda antarindividu. Dengan kata lain, bisa dipahami bahwa tidak ada dua individu yang semuanya sama persis sekalipun mereka saudara kembar. Dalam perjalanan usia tidak ada dua individu yang memiliki “sejarah” makan dan kegiatan yang sama persis. Demikian pula kondisi psikologis dan fisiologis tubuh manusia tidaklah stabil selama 24 jam.

Hal ini pula yang kemudian memunculkan gagasan diet berdasarkan golongan darah. Darah manusia mengandung kandungan protein yang berbeda-beda tergantung dari golongan darah tersebut. Oleh karena jenis makanan yang harus dikonsumsi dianggap harus bersesuaian dengan karakteristik protein darah pada masing-masing individu. Dengan metode ini diharapkan dapat menghindarkan dai cara diet yang salah akan membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Namun pada tahun-tahun terakhir ini para peniliti telah mengembangkan metode diet baru yang lebih spesifik dan mendasar dari pada sekedar protein pada darah. Setiap orang memiliki susunan genetik yang berbeda-beda. Variasi genetik ini mempengaruhi bagaimana tubuh menyerap, menggunakan, dan menyimpan zat-zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Variasi gen juga mempengaruhi produksi dan variasi dari protein yang terbentuk, tingkat kepekaan insulin, tingkat kolesterol tubuh serta potensi penyakit yang mungkin menyerang suatu individu.

Dengan semakin majunya perkembangan ilmu gizi, biologi molekuler, genetika molekuler, patologi, toksikologi, fisiologi, dan bioinformatika telah membawa kemajuan pengetahuan manusia menuju dunia ilmu yang baru yang disebut Nutrigenomik. Nutrigenomik mempelajari interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dan pengaruhnya pada pola- pola ekspresi gen.

Dengan Mempelajari komposisi kebutuhan gizi kita berdasarkan gen akan memberian pengetahuan pada kita jenis-jenis pangan apa saja yang sesuai untuk kita konsumsi. Pengetahuan ini penting untuk menjaga kesehatan kita sekaligus menghindarkan kita dari potensi penyakit kronis yang mungkin menyerang sehingga kebutuhan kita terhadap obat juga dapat dikurangi.

Ilmu nutrigenomik ini masih tergolong sangat baru dan uji DNA membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun riset telah membuktikan bahwa antara gen, diet, dan penyakit-penyakit pembuluh darah mempunyai keterkaitan yang sangat kuat.

Pengetahuan tentang nutrigenomik ini akan membantu kita untuk mengetahui makanan dan minuman apa yang cocok untuk gen tubuh kita.sehingga penyakit obesitas, diabetes, jantung, kanker, osteoporosis, alzheimer, dan penyakit karena penuaan dapat dihindari. Ilmu nutrigenomik memberitahu makanan apa yang kita butuhkan dan makanan apa yang harus kita hindari. Karena bahan kimia pada makanan mampu mengubah ekspresi gen atau mengubah struktur gen.

Efek dari variasi genetik ini dipengaruhi oleh lokasi gen tersebut dan dampak gen tersebut terhadap gen-gen yang lain. Perubahan dalam gen juga memberikan dampak yang berbeda terhadap populasi (ras) yang berbeda. Susunan DNA tertentu juga memiliki ketahanan terhadap penyakit tertentu. Oleh karena itu perkembangan ilmu nutrigenomik merupakan momen yang krusial untuk merevolusi pemahaman manusia terhadap apa yang dimakannya. (M. T. Assyaukani feat Phiet)

KETAHANAN PANGAN, KEBAIKAN ATAUKAH KESALAHAN

Selama ini kita dicecoki dengan pentingnya ketahanan pangan dalam menjamin perkembangan negara kita, kita tidak tahu bahwa di dalamnya terkandung doktrin-doktrin neoliberalisme yang bertujuan untuk menjadikan negara berkembang –seperti yang namanya Indonesia- sebagai mangsa empuk produk negara-negara maju..

Hampir sebelas tahun sudah semenjak paradigma ketahanan pangan (Food Security) dicetuskan dalam FAO World Food Summit 1996. Saat itu seluruh negara anggota bertekad mengurangi setengah dari jumlah kelaparan dunia yang saat itu mencapai angka 850 juta. Memang sejak itu jumlah produksi pangan meningkat sebesar 30% dari jumlah semula. Akan tetapi jumlah angka kelaparan justru meningkat menjadi 920 Juta pada tahun 2006*. Sebuah paradoks ? Apa yang salah ?

Jenewa, Senin 24 Juli 2006, perundingan Organisasi Perdagagan Dunia (WTO) mengalami kebuntuan. Kebuntuan ini memulai krisis perdagangan yang dimulai dari putaran Hongkong setahun sebelumnya. Krisis diawali dengan ketidaksepakatan terutama pada perdagangan bidang industri dan pertanian. Hal yang tersisa adalah renungan bagi pesertanya mengenai kesalahan besar dalam tatanan sistem perdagangan global saat ini.

Di dalam sebuah ruang kuliah, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB sedang duduk mendengarkan dosen berbicara. Sang dosen menjelaskan mengenai pentingnya efisiensi saat ini untuk terus berkompetisi. “Selama bahan baku bisa lebih murah dengan mengimpor, maka imporlah”, ujarnya menjelaskan. Di sisi lain, di desa yang dekat dengan kita, para peternak susu harus kembali bersedih karena harga susu mereka lebih mahal dari pada susu dumping dari Australia dan New Zealand . Para petani kedelai di Jawa Timur harus menghentikan produksi mereka karena kedelei mereka kalah laku dibanding kedelai GMO-nya Monsanto, Amerika Serikat. Dan para pahlawan beras kita harus lagi-lagi bersiap untuk menangis karena bulan Juni tahun ini (2007) pemerintah tengah menyiapkan rencana impor beras super murahnya Vietnam untuk diadu dengan beras produksi mereka.

Sampai kapankah kita harus mendengar fakta-fakta satir ini?. Sampai kapan rakasasa Nestle, Monsanto, haroen Pokphand dan kawan-kawan kapitalisnya tertawa di atas penderitaan petani kita?. Apakah demi memberi jaminan kondisi dimana setiap waktu dan setiap orang mendapat akses kepada bahan pangan -sesuai definisi ketahanan pangan- maka saat itu juga kita harus mengorbankan harga diri bangsa ini dalam mencukupi kebutuhannya sendiri. Ketahanan pangan tak menjelaskan –dan tak mementingkan- darimana bahan makanan itu sehingga tidak masalah bila kita harus mengimpor bahan makanan tersebut. Ketahanan tak menjawab kehancuran perasaan petani-petani kita akibat globalisasi perdagangan dunia yang makin menyengsarakan mereka. Rekan-rekan sekalian, Waktunya untuk Kedaulatan Pangan.

KETAHANAN PANGAN, KEBAIKAN ATAUKAH KESALAHAN

Selama ini kita dicecoki dengan pentingnya ketahanan pangan dalam menjamin perkembangan negara kita, kita tidak tahu bahwa di dalamnya terkandung doktrin-doktrin neoliberalisme yang bertujuan untuk menjadikan negara berkembang, seperti yang namanya Indonesia sebagai “mangsa empuk” produk Negara negara maju.
Hampir sebelas tahun sudah semenjak paradigma ketahanan pangan (Food Security) dicetuskan dalam FAO World Food Summit 1996. Saat itu seluruh negara anggota bertekad mengurangi setengah dari jumlah kelaparan dunia yang saat itu mencapai angka 850 juta. Memang sejak itu jumlah produksi pangan meningkat sebesar 30% dari jumlah semula. Akan tetapi jumlah angka kelaparan justru meningkat menjadi 920 Juta pada tahun 2006*. Sebuah paradoks ? Apa yang salah ?
Jenewa, Senin 24 Juli 2006, perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengalami kebuntuan. Kebuntuan ini memulai krisis perdagangan yang dimulai dari putaran Hongkong setahun sebelumnya. Krisis diawali dengan ketidaksepakatan terutama pada perdagangan bidang industri dan pertanian. Hal yang tersisa adalah renungan bagi pesertanya mengenai kesalahan besar dalam tatanan sistem perdagangan global saat ini.
Di dalam sebuah ruang kuliah, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB sedang duduk mendengarkan dosen berbicara. Sang dosen menjelaskan mengenai pentingnya efisiensi saat ini untuk terus berkompetisi. “Selama bahan baku bisa lebih murah dengan mengimpor, maka imporlah”, ujarnya menjelaskan. Di sisi lain, di desa yang dekat dengan kita, para peternak susu harus kembali bersedih karena harga susu mereka lebih mahal dari pada susu dumping dari Australia dan New Zealand . Para petani kedelai di Jawa Timur harus menghentikan produksi mereka karena kedelei mereka kalah laku dibanding kedelai GMO-nya Monsanto, Amerika Serikat. Dan para pahlawan beras kita harus lagi-lagi bersiap untuk menangis karena bulan Juni tahun ini (2007) pemerintah tengah menyiapkan rencana impor beras super murahnya Vietnam untuk diadu dengan beras produksi mereka.
Sampai kapankah kita harus mendengar fakta-fakta satir ini?. Sampai kapan rakasasa Nestle, Monsanto, Charoen Pokphand dan kawan-kawan kapitalisnya tertawa di atas penderitaan petani kita? Apakah demi memberi jaminan kondisi dimana setiap waktu dan setiap orang mendapat akses kepada bahan pangan “sesuai definisi ketahanan pangan- maka saat itu juga kita harus mengorbankan harga diri bangsa ini dalam mencukupi kebutuhannya sendiri. Ketahanan pangan tak menjelaskan dan tak mementingkan darimana bahan makanan itu sehingga tidak masalah bila kita harus mengimpor bahan makanan tersebut. Ketahanan tak menjawab kehancuran perasaan petani-petani kita akibat globalisasi perdagangan dunia yang makin menyengsarakan mereka. Rekan-rekan sekalian, Waktunya untuk Kedaulatan Pangan.

Kedaulatan Pangan

Pada tahun 1996 ketika FAO mengadakan World Food Summit dan mengeluarkan Deklarasi Roma mengenai Ketahanan Pangan (food security), organisasi dunia buruh tani dan petani dunia La Via Campesina mengeluarkan konsep alternatif yang disebut kedaulatan pangan (food sovereignty). Kedaulatan pangan didefinisikan sebagai hak sebuah negara dan petani untuk menentukan kebijakan pangannya dengan memprioritaskan produksi pangan lokal untuk kebutuhan sendiri, menjamin ketersediaan tanah subur, air, benih, termasuk pembiayaan untuk para buruh tani dan petani kecil serta melarang adanya praktek perdagangan pangan dengan cara dumping.
Hak menentukan kebijakan pangan sendiri yang dimaksud oleh kedaulatan pangan adalah bahwasanya para buruh tani dan petani itu sendiri yang menentukan pemilihan cara produksi, jenis teknologi, hubungan produksi, distribusi hingga menyangkut masalah keamanan pangan. Karena itu melalui kedaulatan pangan semua jenis aktivitas produksi pangan harus dikerjakan oleh para petani itu sendiri, sehingga yang dinamakan kedaulatan pangan tersebut dimiliki oleh petani bukan oleh pengusaha.

Kenyataan yang dihadapi oleh pemerintah dengan meningkatnya harga BBM ini sebenarnya pernah juga dialami oleh negara lain, bahkan dengan tingkat kesulitan yang lebih besar. Tetapi dengan menerapkan kebijakan kedaulatan pangan, maka justru kemajuan yang kemudian diperoleh oleh petani. Kuba adalah salah satu negara yang kerap menjadi contoh bagaimana negara harus menghadapi embargo perdagangan dan kesulitan BBM. Kuba bukan hanya mengalami kenaikan harga BBM, bahkan BBM tidak ada karena pemasok utamanya Uni Soviet karena sedang jatuh setelah perang dingin.

Dalam situasi yang sulit demikian pemerintahan Fidel Castro, memutar haluan kebijakan ekonomi dari orientasi ekspor menjadi pemenuhan kebutuhan sendiri, utamanya pangan. Sistem ekonomi yang sangat tergantung pasar internasional sesungguhnya yang memuat banyak negara berkembang mengalami banyak krisis ekonomi. Dan pembangunan pangan pun dilakukan dengan menerapkan sistem pangan yang berdaulat seperti produksi pupuk dilakukan sendiri oleh petani bukan oleh industri petrokimia, akibatnya semakin banyak lapangan kerja tercipta di pedesaan untuk memproduksi sarana produksi pertanian. Penggunaan hewan untuk mengolah lahan pun dilakukan sehingga kegiatan pertanian tidak perlu mengkonsumsi BBM dengan menggunakan traktor. Adapun buah dari penerapan pertanian organik, petani tidak perlu tergantung dengan pestisida, sementara tingkat kesehatan rakyat meningkat dengan pesat karena pangan yang dikonsumsi dijamin keamananya, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, toksin, dan bahan karsinogenik. Atas usaha yang demikian ini akhirnya Kuba merupakan salah satu negara di dunia dengan umur harapan hidup tertinggi di dunia.

Bahkan Kuba yang sebelumnya menjadi salah satu eksportir besar gula di dunia, kini tidak lagi menjadikan gula sebagai andalan perekonomian. Bahkan tanah-tanah perkebunan tersebut dibagikan kepada para buruh tani melalui land reform, sehingga tiap-tiap keluarga dapat bekerja dan kecukupan pangan. Kecukupan pangan tiap keluarga lebih penting daripada ekspor pertanian dengan devisa yang besar, tetapi rakyat dan petani kelaparan.
Rejim ketahanan pangan (food security) yang dijalankan di Indonesia selama ini sudah terbukti tidak meningkatkan kesejahteraan petani, bahkan memunculkan kelaparan dan kemiskinan. Karenanya menjalankan kedaulatan pangan (food sovereignty) seharusnya menjadi pilihan bila pemerintah memang berkesungguhan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan meletakan landasan ekonomi yang tepat untuk keluar krisis ekonomi.

Pandan Wangi atau Wangi Pandan ??

Seiring berkembangnya konsep penjualan ritel , porsi beras dalam kemasan berlabel semakin meningkat. Konsumen beras dalam kemasan ini biasanya adalah masyarakat kelas menengah ke atas yang cenderung mengutamakan aspek kualitas dari produk. Walaupun secara agregat persentase beras yang dijual dalam kemasan ini sangat kecil namun permintaannya terus menaik. Hal ini tak lepas dari pesatnya pertumbuhan pasar-pasar ritel baik skala sangat besar, besar maupun kecil di perkotaan maupun, pelosok-pelosok daerah seluruh Indonesia.
Akan tetapi label beras dalam kemasan saat ini tidak menunjukkan mutu beras yang sesungguhnya. Ini menunjukkan bahwa label hanya sebagai pengemas, tapi tidak jujur dalam memberikan informasi kepada penggunanya. Sebagai contoh, beras berlabel ”pandan wangi” belum tentu seratus persen berisi beras varietas pandan wangi. Dari 9 merek beras Pandan Wangi yang diuji oleh LPPM IPB (2007) hanya 2 merek yang mengandung beras asli Pandan Wangi di atas 40%, sisanya hanya mengandung Pandan Wangi sekitar 17%-26%. Fakta ini menunjukkan adanya indikasi penipuan terhadap konsumen oleh para pedagang beras dalam kemasan. Contoh lain juga adalah adanya beras biasa yang diberi essences pandan sehingga seolah-olah seperti beras Pandan Wangi ketika dibeli namun ketika beras itu ditanak aroma pandannya menjadi hilang sama sekali. Hal ini sangat berbeda dengan beras Pandan Wangi yang justru aroma pandannya semakin kuat setelah ditanak apalagi ketika masih ”kebul-kebul”. Selain itu, beras berlabel yang ada di pasaran juga tidak mencantumkan persyaratan informasi minimal pada label sesuai No.7 tahun 1999 Tentang Pelabelan Pangan seperti, tidak tidak adanya komposisi gizi atau bahan, alamat perusahaan, dan tanggal kadaluarsa.
Masalah penipuan kemasan ini menjadi sangat penting karena praktek pengoplosan ini secara ekonomis sangat merugikan petani beras Pandan Wangi. Pencampuran dengan varietas lain dengan label pandan wangi akan merusak citra merek dari beras Pandan Wangi yang sangat mungkin menurunkan persepsi mutu masyarakat terhadap beras ini. Di lain pihak para pedagang yang memalsukan label meraup keuntungan yang sangat besar dari selisih harga antara beras pandan wangi dan varietas lain. Sebagai perbandingan beras biasa umumya memiliki haraga berkisar 6000-7000 rupiah per kilogramnya sementara beras Pandan Wangi dapat mencapai harga Rp. 14.000/kg. Oleh karena margin keuntungan paling besar sekarang dimiliki oleh para pedagang beras berlabel sedangkan para petani tetap berkalang dengan kemiskinan dengan harga gabah yang tak beranjak naik.
Penurunan persepsi mutu Pandan Wangi juga dapat menurunkan nilai pasaran dari varietas beras yang sangat unggul tersebut. Dari hasil diskusi dengan beberapa distributor/eksportir beras diperoleh informasi adanya peluang ekspor beras bermutu ke Singapura dan Korea untuk beras Pandanwangi. Sehingga apabila mulai dari sekarang penurunan persepsi mutu dari Pandan Wangi tidak dihentikkan dikhawatirkan anggapan itu akan meluas ke dunia internasional sehingga kesempatan ekspor akan hilang.
Mungkin banyak orang mengatakan hal ini adalah masalah sepele dan kecil. Akan tetapi ingat, biasanya dari hal-hal kecilah masalah besar akan muncul. Mahasiswa pertanian yang biasanya kritis terhadap kebiakan pertanian pemerintah harusnya merasa terpanggil hatinya untuk mengangkat isu ini sehingga akan muncul upaya pencerdasan masyarakat mengenai penipuan label ini. Bukan demi kita, atau pemerintah tapi demi para petani yang menunggu peranan kita untuk mengangkat kesejahteraan mereka dan demi terangkatnya varietas lokal kebanggaan bangsa Indonesia. HIDUP MAHASISWA !

* Tulisan ini adalah hasil rangkuman dari PPKM yang penulis buat bersama Galih Nugroho (Fateta) dan Warid (Faperta) di bawah bimbingan Dr. Ir. Nugraha Edi S. Data berasal dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB .

Beras, Kawan yang Mengancam : Sebuah satir tentang diversifikasi pangan

“Ketahanan pangan merupakan hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan atas pangan dan penjajahan melalui pangan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

- Bayu Krisnamurti -

Makanan pokok bangsa kita pada masa lalu amatlah beragam, mulai dari tiwul di Jawa, jagung di Madura, Sagu di wilayah timur serta aneka ragam pangan pokok lain yang terdapat di tiap daerah. Namun keragaman itu kini kian sirna, kemanapun kita pergi ke pelosok negeri ini, akan sulit menemukan daerah yang tidak menjadikan nasi sebagai bahan pokoknya. Nasi secara cepat dan pasti merebut hati masyarakat kita dari makanan lokal yang ada di daerah masing-masing.

Realita ini bukannya tidak menimbulkan masalah, budaya konsumsi beras yang “menasional” ini mengakibatkan meroketnya permintaan terhadap beras di pasaran. Celakanya kenaikan ini tidak diiriingi peningkatan luas lahan-lahan sawah yang umumnya berada di tanah jawa. Atas nama “kemajuan zaman”, alih-alih makin meluas, wilayah pertanian kita justru semakin menyempit tergerus oleh roda pembangunan. yang menambatkan gedung-gedung megahnya diatas tanah yang terkenal akan kesuburannya ini.

Fenomena tersebut memaksa pemerintah untuk mengimpor beras demi tetap memenuhi permintaan domestik terhadap beras. Pada tahun 2004 ketergantungan impor beras berdasarkan jumlah energi yang dikonsumsi mencapai 10,83 k kal/kap/hari atau sebesar 1,02 persen (Suryaman, 2006). Bila angka tersebut dikalikan dengan jumlah penduduk dan dikonversikan dengan harga beras, maka aliran devisa ke negara pengekspor mencapai miliaran rupiah. Selain itu beras juga masih merupakan komponen utama dalam konsumsi energi per kapita yakni sebesar 54. Jika dibiarkan maka seiring naiknya jumlah penduduk Indonesia maka angka konsumsi beras akan semakin meningkat dan bangsa kita akan semakin mengalami ketergantungan terhadap impor beras dari negara lain. Inilah yang kemudian disebut oleh Bayu Krisnamurti sebagai “penjajahan atas pangan” . Pada akhirnya kondisi ketahanan pangan bangsa Indonesia akan terancam.

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah melalui penganekaragaman (diversifikasi) pangan yaitu proses perubahan pola konsumsi pangan yang tidak tergantung kepada satu jenis bahan saja, tetapi memanfaatkan macam-macam bahan pangan. Program diversifikasi pangan adalah program yang paling strategis dan cepat untuk pencapaian kondisi ketahanan pangan bangsa. Berbagai usaha seperti ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian mungkin solusi yang dapat ditempuh namun kedua solusi ini membutuhkan waktu lama dalam penerapannya. Ekstensifikasi mengharuskan pemerintah membebaskan lahan-lahan untuk dijadikan lahan pertanian . Program tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar dan rasanya kurang realistis di era pembangunan sekarang. Sedangkan program intensifikasi pertanian membutuhkan waktu dan biaya untuk penelitian-penelitian dan penyuluhan teknis kepada petani yang ada di setiap daerah.. Oleh karena itu diversifikasi pangan adalah solusi yang paling jitu untuk masalah ini.

Keberhasilan upaya penganekaragaman pangan terutama ditentukan oleh faktor produksi pangan, perkembangan teknologi pangan dan kemampuan daya beli untuk mengakses pangan.. Namun faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan usaha penganekaragaman (diversifikasi) pangan adalah faktor kesadaran masyarakat menangani pentingnya konsumsi pangan yang beragam dengan gizi yang .berimbang. Sudah hal yang lumrah bahwa pada umumnya masyarakat kita walaupun sudah menyantap berbagai makanan tetapi merasa “belum makan” apabila tidak ada nasi pada menu makanannya. Paradigma “kecintaan” masyarakat terhadap beras ini harus diubah perlahan-lahan kearah pola konsumsi berbasis diversifikasi pangan.

Bahan pangan yang dikembangkan sebisa mungkin berbasis komoditas lokal dengan memperhatikan aspek ketersediaan di masa depan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat Namun persoalan pokok yang dihadapi dalam upaya ini adalah tertananamnya citra inferior terhadap pangan lokal sumber karbohidrat seperti singkong, jagung, ubi ataupun sagu . Masyarakat menganggap produk makanan dari bahan tersebut (misalnya tiwul) adalah makanan masyarakat kelas bawah sehingga sedapat mungkin berusaha untuk tidak mengkonsumsinya..

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pendekatan upaya divesifikasi pangan hendaknya memperhatikan aspek-aspek psikologis masyarakat yang telah tertanam. Beberapa pendekatan tersebut antara lain :

1. Upaya penganekaragaman pangan seyogyakan mengedepankan aspek pengembangan sumber daya manusia melalui konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan berimbang. Dengan demikian upaya keterpenuhan gizi dan peningkatan kesehatan masyarakat lebih menonjol daripada aspek-aspek lainnya.

2. Usaha diversifikasi pangan jangan dikaitkan langsung dengan upaya pengentasan kemiskinan dan penanggulangan bencana. Hal ini sangat penting terkait dengan adanya citra masyarakat yang menganggap makanan selain nasi hanya perlu dikonsumsi hanya pada kondisi darurat saja.

3. Karena beras merupakan fokus utama dari upaya diversifikasi pangan maka penurunan angka konsumsi beras (ingat..bukan angka produksi) harus dijadikan sasaran dari upaya penganekaragaman pangan.

4. Penjalinan kerjasama yang erat dengan industri pangan. Industri pangan merupakan garda depan dalam proses pengolahan pangan berbasis komoditi non beras. Inovasi yang dapat dilakukan oleh industri memungkinkan naiknya citra bahan pangan sumber karbohidrat lain dimata masyarakat. Misalnya saja dengan kehadiran tiwul instant, makanan tradisional sebagian penduduk di Jawa, bahan bakunya bisa diperkaya dengan campuran berbagai bahan sehingga mendapatkan nilai optimum dari segi rasa, harga dan kandungan gizinya.

Pada akhirnya pendekatan-pendekatan tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya political will” yang konsisten dari pemerintah terkait upaya diversifikasi pangan. Banyak kebijakan pemerintah yang –meminjam istilah Maman Suryaman- bersifat “Berassentris”. Contoh paling nyata adalah Operasi Pasar yang selama ini dilakukan pemerintah. Ketika harga beras naik tak terkendali, pemerintah lebih memilih untuk menggelontorkan beras yang pada akhirnya memanjakan kaum perkotaan dan mencekik leher para petani yang harus menderita karena harga beras turun. Padahal jika pemerintah konsisten dengan upaya diversifikasi pangan maka pemerintah dapat mengembangkan produk yang sekiranya dapat diterima oleh konsumen untuk menggantikan beras, sehingga kedua pihak , baik konsumen dan petani dapat sama-sama diuntungkan. Akan tetapi “politik nasi” ini entah kenapa tetap dipertahankan dari masa ke masa. Apakah mungkin demi tetap mendapat kepercayaan rakyat untuk tetap mendapat beras? Mungkin saja, karena kepentingan jangka pendek pemerintah tiap periodenya memang tak pernah berubah yaitu “pemilu yang akan datang”.

Textured Tempeh Protein (TTP) as Alternative Meat to Prevent Coroner Heart Disease

Urban consumption habit today which dominated by meat and meat product have a high risk for health. Meat fat is source of cholesterol in high concentration causing degenerative disease like Coroner Heart Disease (CHD). Cardiovascular disease including CHD is the most killer disease. From one hundred people died, sixteen persons of them died caused by CHD, according to Household Survey in 1992. Furthermore this number was raising into 26.4% in 2001.

Some decades ago, right exactly in 1972, Husden and Hoer had created an innovation in food sector to answer cholesterol problem of the world, especially meat cholesterol. The innovation was Textured Vegetable Protein (TVP). TVP is a meat analog which generally made from pure soybean, concentrate soy protein, or isolate soy protein. The existence of soybean as one of leguminaceae division with high quality vegetable protein is combined with others ingredients like spices and food color. The TVP nutritional composition can be modified became equivalent with nutrition of meat. And TVP has become a solution for people who concern about their cholesterol level.

Indonesia is a rich soybean country. The most famous Indonesian traditional food is tempeh. As a fermented product, tempeh has higher nutrition than its sources, soybean. Tempeh consists of 46.5 percent protein higher than soybean with Protein Efficiency Ratio (PER) 2.12 its caused by the existence oy mycoprotein form the microorganism. Tempeh also consists of complex vitamins, especially complex vitamin B. These vitamins are the products made by mold that fermenting soybean.

Besides from soy flour or soy protein isolate, TVP can also be produced using tempeh flour as a main ingredient. Tempeh has a better texture and moisture than soy bean. So, tempeh is easier to process than soybean on producing TVP. Meat analog produced from tempeh is called Textured Tempeh Protein (TTP). Primary sources for making TTP is tempeh flour and isolate of gluten protein. The benefits of soy protein in tempeh is the capability to form fibers or thread. In other hand gluten protein can increase texture quality of product because its capability to increase the dough volume. Tempeh flour can made from milled tempeh by drum dryer and continued by filtering process. Gluten isolate is made by submerged wheat flour in water and continued with freeze drying.

Many method has been developed in producing TVP/TTP . One of method on TTP production is extrusion. On this method, dough is formed from defatted tempeh flour. Defatted tempeh flour containing a certain amount of water is passed trough a high-pressure extruder cooker to produce an expanded and porous product. Although devoid of true fibres, the product possessed the textural characteristic of chewiness and elasticity and was deemed to imitate meat in this respect.

Not only for preventing CHD, we hope this kind of product can be one of many solution for Indonesian food problem today. Many disasters happened in Indonesia, like flood, earthquake, and tsunami. The most food form donations that usually given are instant noodle for practice. Because of instant noodle is lack of nutrition especially protein, TTP can be alternative as a complementary food which has high nutrition quality. Besides, TTP is easily prepared and long self-life. TPP has delicious taste and meat mouthfeel. Finally we hope this product can give a better food quality for them whom suffered today and for the future.

Anggota Kelompok :
1. M.T.Assyaukani F24104072
2. Yuke Juanita F24104120
3. Jamal Zamrudi F24104113

[Kani, jamal dan yuke odong - 9-Sep-2006]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,353 other followers