Filed under Indonesiaku

Lebaran Berbeda Lagi… Kebodohan Lain Lagi

Kamar 212, Asrama Insan Cendekia

“Tapi agama ga bisa diperlakukan seperti itu Kani, itu sama saja kita merasa bahwa kita lebih pintar dari Allah, naif sekali”, ujar Andi (bukan nama sebenarnya) salah seorang temanku.

“Andi, maksud ustadz Wahfiudin tu benar, memang jaman dahulu rosul menganjurkan untuk menggunakan rukyat karena memang teknologi seperti satelit maupun ilmu falak belum berkembang”, jawabku menjelaskan, “Dengan adanya teknologi ini kan bisa jauh mempermudah kita sekarang”.

“Itu berarti sama aja kamu merasa teknologi itu melebihi dalil hadis yang sudah ada? jelas-jelas sudah rosul sudah jelaskan, dalam menentukkan idul fitri adalah dengan cara melihat bulan alias rukyat, kalo tidak terlihat maka kita genapkan 30 hari”, ngotot si Andi.

“Tapi…”, potongku, “ya sudahlah sepertinya diskusi ini akan menjadi sangat panjang bila dilanjutkan”.

=== *** ===

Menyaksikan sidang isbath di  TV One untuk menentukkan lebaran membuatku merasa de javu pada salah satu potongan kisah hidupku di atas. Sebuah diskusi (atau lebih tepatnya perdebatan) mengenai “Mengapa lebaran kita seringkali berbeda” yang amat sangat panjang dan melelahkan walaupun akhirnya diakhiri pada kesepekatan untuk tidak sepakat.

Saya bosan dan jengah dengan “ketidakkompakan” umat ini menentukkan hari besarnya sendiri. Saya bukan orang yang anti dengan khilafiyah (perbedaan pendapat), tapi untuk sesuatu yang bisa kita sepakati bersama untuk kebaikan umat maka kenapa tidak kita usahakan agar sepakat. Para pemimpin agama selalu berusaha bijaksana mengatakan bahwa “perbedaan ini adalah rahmat” dan kalau saya mengatakan itu adalah bullshit.

Agak kasar sih, tapi emang saya kesal dengan perbedaan ini. Saya berbicara bukan karena intensi pribadi, saya hanya merasa bahwa kita bisa berbuat lebih jika kita mendahulukan kepentingan dan maslahat umat. Jujur saya malu dengan agama lain dengan perbedaan ini… “ah umat islam, nentuin hari lebaran aja ga bisa akur, payah”.

Lebaran atau idul Fitri adalah hari yang sangat spesial bagi umat islam khususnya Indonesia. Dalam merayakan hari spesial ini tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Pengurus masjid harus menyiapkan lapangan, tiker, khatib dsb untuk  persiapan shalat Ied. Instansi-instansi pemerintah maupun swasta sudah mempersiapkan berbagai acara untuk penyambutan meliputi sewa tempat dan peralatan logistiknya. Nah coba bayangkan jika persiapan-persiapan itu harus berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Bayangkan kalo ada yang mau sewa tempat bilangnya begini, “Pak saya mau sewa tempat buat perayaan Idul Fitri, tapi tanggalnya belum pasti, bisa senin atau selasa..”. Lucu kan?

Misalnya juga, pas sidang isbath ini disampaikan bahwa sumber kegaduhan disebabkan SKB cuti bersama di sampaikan tanggal 30 Agustus bukan 1 syawal? sehingga ketika dinyatakan ternyata tanggal 31 agustus maka masyarakat menjadi bingung. namun apakah ini kesengajaan?  Capek deh.. saya malah setuju dengan keputusan cuti bersama dalam masehi, karena memang roda organisasi harus berjalan dalam suatu sistem kepastian waktu. Alangkah lucu jika dikatakan bahwa hari libur akan dimulai pada tanggal 1 syawal… “terus itu hari apa?”, hmmmm “bisa selasa atau bisa rabu”, WTF!!.

Di TV saya juga melihat betapa beberapa kepala daerah sudah mempersiapkan kemeriahan dengan tenda besar dan ratusan orang berkumpul bersama kendaraan mereka yang sudah dihias untuk memeriahkan Malam Takbiran dan akhirnya hanya mendengar pengumuman “Takbiran dilakukan besok malam”. Pengumuman yang membahagiakan bagi pemilik catering karena mereka akan mendapat order tambahan untuk esok hari dan pihak gedung karena dapat tambahan sewa satu hari, tapi saya tidak melihat kejadian itu melainkan hal yang amat lucu dan memalukan. Bagaimana umat mau maju kalo segala persiapan acara besar harus di persiapkah H-1 sebelum acara? desn’t make any sense !!.

Well, ketidakpastian bukan semata wayang alasan yang membuat saya ingin adanya kesepakatan antara umat ini. Bukannya akan terasa jauh lebih indah jika kita bersama?. Akan sangat tidak enak jika dalam suatu keluarga besar yang sudah lama tidak bertemu kemudian tidak bisa makan bersama karena berbeda hari lebarannya. Atau ibu-ibu yang terpaksa merubah menu lebarannya menjadi sahur bersama dan harus membeli kembali persiapan lebaran.

Apa sih Sebab Perbedaan Ini…

Awalnya saya kira sumber permasalahan ini adalah antara penggunaan rukyat vs hisab. NU menggunakan rukyat (melihat langsung bulan) sehingga hanya bisa menentukan lebaran pada h minus satu sedangkan muhammadiyah menggunakan hisab (metode perhitungan) sehingga bisa menentukan lebaran jauh jauh sebelumnya. Pada dasarnya baik kedua metode di atas akan menentukan waktu yang sama namun friksi yang terjadi adalah apabila ketika hasil perhitungan seharusnya bulan sudah terlihat namun langit terlalu “mendung” atau bulan terlalu ngumpet (nongolnya dibawah 2 derajat) sehingga tidak dapat terlihat.

Namun ternyata penyebab dari perbedaan penetapan ini adalah tidak sesederhana memilih antara Rukyat dan Hisab karena baik NU, Muhamadiyyah maupun organisasi lainnya telah menggunakan kedua cara ini. Akar penyebabnya lebih pada perbedaan pendapat mengenai patokan awal penentuan bulan syawal. Misalnya saja kedua pihak hanya menggunakan hisab saja, maka pun akan berbeda.

Perbedaan patokan tersebut karena pihak Muhammadiyah meyakini bahwa pergantian bulan harus mengikuti hitungan pergantian bulan pada umumnya, yaitu ketika posisi bulan sudah muncul di atas horizon atau ufuk (horizon dapat digambarkan seperti kita melihat sunrise), patokan ini dikenal dengan “Wujudul Hilal” atau “sudah ada wujud bulannya. Adapun pihak NU dkk meyakini bahwa kemuculan hilal/bulan di atas horizon saja masih belum cukup. Mereka meyakini bahwa posisi di atas horison saja belum cukup, tetapi posisi hilalnya sudah cukup tinggi sehingga dapat dilihat oleh mata. Dan posisi yang sudah dapat dilihat mata ini, berdasarkan ilmu astronomi, harus lah di atas 2 derajat dari horison. Metode hisab ini dikenal dengan “Imkanu Rukyat” alias perhitungan berdasarkan “kemungkinan untuk di rukyat/lihat”. Jadi kalo hilalnya masih baru nongol sangat sedikit (di bawah 2 derajat) maka belum layak disebut “berganti bulan syawal”.

Nah kemudian muncul kebali banyak pertanyaan, misalnya… kenapa hanya bulan ramadhan saja yang tidak akur? tapi idul adha, taun baru hijriah dll selalu akur?, kalo misalnya keduanya pake hisab kenapa harus ditentukannya H minus 1 melulu?. Nah sumber permasalahan ini adalah penafsiran yang berbeda oleh keduanya terkait hadis rosul berikut :

Rasulullah SAW telah bersabda: “berpuasalah kalian semua dengan melihat hilal dan berbukalah kalian semua dengan melihat hilal. Maka apabila hilal mendung, sempurnakanlah bilangan sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (H.R. Bukhori)

Kalimat “melihat hilal” inilah yang menjadi patokan NU dkk menentukan metode “imkanu rukyah” untuk bulan ramadhan dan syawal (sedangkan bulan lainnya tetap wujudul hilal). Sedangkan Muhammadiyah secara konsisten tetap menggunakan wujudul hilal untuk penentuannya karena mereka berpatokan pada hisab semata dengan meyakini bahwa peredaran benda-benda langit telah di atur konsisten oleh yang Maha Kuasa sebagaiman Firman-Nya :

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”, QS 55 ayat 5

Mari Kita Bicara Tentang Solusi..

Berangkat dari itu secara pribadi (sekali lagi : secara ribadi) saya lebih meyakini menggunakan Wujudul Hilal karena selain akan lebih konsisten dengan bulan berikutnya, secara ilmu pengetahuan pun akan lebih bisa dipertanggung jawabkan.  Tapi kan ada hadits rosul bahwa menentukkannya harus lewat “rukyat” dan jika tak terlihat maka digenapkan menjadi 30 hari”. Iya betul, tapi apakah kata “rukyat” atau “melihat langsung”  itu harus ditafsirkan secara harfiah?. Bukannya beberapa kata dalam alquran pun menggunakan kiasan, misalnya “menyentuh” wanita terkadang yang dimaksud adalah berhubungan suami istri. Atau misal hadis yang mengatakan “tangan” Allah tapi artinya adalah “kekuasaan” karena Allah itu tidak punya tangan. Berangkat dari itu sangat mungkin kan jika kata “Melihat” a.k.a rukyat itu diartikan dengan Hisab Wujudul Hilal dimana kita bisa “melihat” kepastian lebaran jauh-jauh hari sebelumnya.

Namun saya juga bukan orang yang berpikiran sempit dan saklek pada suatu hal. Objective utama tulisan ini adalah bagaimana umat bisa mendapat Lebaran yang “Well Planned” dan Kompak. Well Planned artinya penentuannya jangan mendadak H minus 1 sehingga kita bisa maksimal dalam menyambut dan merayakannya (serta tidak ada opor lebaran yang mendadak jadi sahur:). Kompak artinya semua pihak bisa berangkat shalat Ied bersama dalam hari yang sama, keluarga besar yang sudah lama tidak berjumpa bisa ngeriung makan bersama di waktu yang sama.

Nah untuk mencapai objective itu perlu kiranya semua ormas terkait duduk bersama setahun sebelum lebaran untuk menentukan metode hisab yang mana yang akan digunakan untuk menentukan lebaran tahun depan. Wujudul Hilal kah atau Imkanu Rukyah. Kalo perlu, ekstremnya, dibuat saja bergantian saja tiap tahunnya biar sama-sama adil. Yang terpenting bagi kami golongan akar rumput adalah kami bisa menikmati hari-hari yang telah lama kami tunggu ini bersama keluarga tercinta dengan bahagia.

Tapi ya sudahlah, siapalah saya yang bisa menyelesaikan masalah ini, saya hanyalah segelintir dari blogger yang menyuarakan  kerinduan akan kebersamaannya umat ini.

Allahu A’lam bi Shawwab

PPSDMS, Integritas dan Peradaban yang akan dibangun

Dalam Hati tertanam cinta
Rela korbankan jiwa raga
Bagi kehormatan dan cita
Tegaknya kejayaan bangsa

Walau jiwa gugur sebagai penebus
Tak akan goyahkan hati
tlah bulat tekad untuk berbakti
Mengemban misi bersih suci

Tanpa Harap balasan jasa
Hanya Ridha Allah semata
PPSDMS berjuang
Demi Indonesia Mulia
(Hymne PPSDMS NF)

Ngeri..!! itulah kesan akhirku seiring berakhirnya Pelatihan Kepemimpinan Nasional PPSDMS 3 yang juga sekaligus acara wisuda PPSDMS angkatan 3 (termasuk diriku). Ngeri, karena takut.. takut karena betapa besar harapan para tokoh dan pendiri PPSDMS terhadap kami para alumni untuk membangun sebuah peradaban baru, “Ini adalah sebuah perjuangan membangun peradaban”, ujar Ust. Musholli direktur PPSDMS…

Ngeri..!! karena juga mengingat jutaan uang zakat..ya zakat, uang umat yang telah saya gunakan dua tahun ini untuk kehidupanku maka mulai detik ini akan menjadi tanggungan yang luar biasa besar, amanah yang teramat sangat tinggi akan harapan masa depan pada pundak diriku dan rekan-rekan semua. Terbayang berarti tiap kali aku melakukan dosa, maka tanggungan dosaku 2x lipat dari orang biasa karena aku memakan uang zakat… uang yang mungkin apabila tidak diberikan padaku maka mungkin bisa membuat satu atau dua keluarga bisa terselamatkan akibat kematian karena kelaparan.

Ngeri..!! karena sampai detik ini diri ini masih terlalu takut, takut apabila idealisme ini akan luntur ketika  tanda tangan diriku  dapat membuat sebuah proyek miliaran rupiah terwujud dan kemudian ada yang mau menawarkan , “Pak, mau 10%nya untuk meluluskan proyek ini?”. Takut ketika kondisi keluarga memaksa untuk berbuat tidak jujur, takut bila keserakahan mengisi tiap ligamen tubuh ini.

PPSDMS bukan beasiswa, PPSDMS adalah sebuah harapan, harapan terhadap bangsa ini. Bangsa umat muslim terbesar sedunia dengan berkah SDA yang luar biasa namun tergerogoti oleh insan yang korup, salah urus dengan birokrasi yang kolutif dan pragmatis, terbangun dengan sistem oligarki alih-alih meritokrasi. Indonesia adalah calon pemimpin dunia bila negara ini dipimpin dan dikendalikan dengan orang-orang berintegritas tinggi, mereka yang enggan menukarkan surga dengan lembaran cek miliaran rupiah, orang-orang yang enggan menggadaikan imannya demi sebuah rumah mewah.

Terlalu akut masalah bangsa ini sehingga sehebat apapun presidennya tak akan mampu mengubah wajah muram bangsa ini dengan cepat. Perlu langkah yang walau pelan tapi pasti dan terarah, salah satunya adalah menyiapkan generasi baru..generasi baru yang akan menggantikan mereka kelak, 20-30 tahun kemudian, generasi yang padanyalah kita bisa berharap mengembalikan kejayaan bangsa ini. Dan menunjukkan kepada dunia sebuah prototype negara muslim yang ideal.

Di tengah-tengah cita-cita itulah aku berdiri, seorang awam yang tidak istimewa sama sekali tergetar mendengar cita-cita itu. tergetar bukan hanya karena kagum bahwa di tengah-tengan era hedonis ini ada juga sekelompok orang yang memikirkan nasib bangsa 20-30 tahun ke depan, tapi tergetar karena di antara cita-cita itu tersemat nama seseorang yang amat saya kenal,

Muhammad Taufiqullah Assyaukani , alumni PPSDMS reg 5 Bogor..

Apakah saya sanggup?bahkan untuk masuk PNS pun saya selalu takut untuk korupsi,  bahkan dari sikap sering kekanak-kanakan, dari bicara tak tampak dewasa,mengerjakan QL dan tadarus saja saya masih belum dawam, bahkan untuk membicarakan problem umat saja saya masih jarang, ditambah  mengenai kompetensi diri yang masih pas-pasan.. apakah bisa saya menjadi bagian dari cita-cita ini..

Kami tidak mengharap apapun dari manusia, tidak juga harta benda, popularitas atau sekedar ucapan terimakasih,
Yang kami harapkan adalah
 Terbentuknya Indonesia baru yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta

Antara Batik dan Jas berdasi (Tokyo Love story 3)

Orang Malaysia aja ga pake batik

Detak jantungku terus bernyanyi, di tengah suasana yang amat menakutkan ini. Ya Allah, saya sedang menuju detik-detik presentasiku yang amat menegangkan. Bayangkan..saya harus berdiri di depan 900an manusia yang berasal dari berbagai belahan dunia, dari Amerika serikat hingga Monggolia. Ini kali pertama aku berbicara di depan forum internasional, dan parahnya lagi menggunakan bahasa inggris.

Ketegangan ini bukan sekedar masalah harga diri pribadi, tapi harga diri bangsa. Indonesia, aku ga mau orang berpikir orang Indonesia payah hanya karena mereka melihat presentasiku yang tak terarah.

“And the next presenter will be Mr. Muhammad T. Assyaukani from Bogor Agricultural University Indonesia, please welcome Mr. Muhammad on the stage”

Deg… ya Allah.. ini lah waktunya, tak terhitung berapa kali aku berdoa Robbi Shrohli Sodri, dan berapa kali aku latihan tapi tetap saja jantung ini tak mau di ajak kompromi.

“Good morning ladies and gentlement, it a great honor for me to stand in fron of you all the participant of the 8th International Student Forum….”

Akhirnya lepas juga suara ku, entah kenapa aku merasa sangat bangga dengan negaraku saat itu… dan aku merasa i have to fight, lalu aku berpindah dari belakang podium menuju bagian depan panggung dan sedikit berjalan sambil menggerakkan tangan, serasa aku terinspirasi barrack obama dan ingin menyihir semua orang yg mendengarkan pidatonya…

“Oke the purpose of my presentation is to describe to you about current condition of food security in Indonesia and…

Presentasiku pun mulai mengalir, sengaja sedikit aku sematkan beberapa foto panorama Indonesia seperti Sawah bali, gunung Agung, Hutan tropis, Batik Yogya sampe Kue Brownies (lho kok jauh banget:).. dan tak lupa di slide terakhir aku sematkan gambar sekawanan burung terbang dari slide mr. Dahrul dan logo visit Indonesia 2008 sekaligus menutup presentasi

” Ladies and Gentlement, i belief, like this birds, flying in groups and help each other…together we can make a better future for You for me and for our children, Arigatou gozamaisuta..”

Dan tepuk tangan pun bergemuruh, aku merasa puas bisa membawakan presentasi ini, dan aku lebih puas lagi karena aku memawakannya dengan menggunakan baju batik. Padahal sejam sebelum aku pergi aku masih bingung antara memilih jas berdasi ataupun batik, namun rasa cinta ku pada tanah air membuatku memilih batik hijau ini, its awesome..

Kebanggaan ini ditambah dengan rasa puas karena seorang dosen jepang, Mr. Inaizumi memujiku dan menyatakan tertarik dengan presentasiku. Begitu juga Alex dari meksiko, orang yg belum kenal sama sekali tapi dia bilang “Great presentation, i like your style..”, dan juga Felipe dari brazil “Good presentation its look like you have lot of preparation for it..”. hah leganya…

Oke..but that’s not the point that i want to say to you guys, you know kadang kita merasa under estimate pada bangsa kita sendiri, padahal ketika berkumpul dengan rekan2 dari 19 negara aku sangat percaya bahwa suatu saat kita dapat memimpin mereka. Presentasi mereka tidak jauh kualitasnya dengan kita, kemampuan bicara mereka pun sama rata dengan kita, kecerdasan mereka.. ahh.. sama saja. Aku yakin kita bisa…

Melihat kehebatan Akihabara seolah aku melihat Bandung atau surabaya 4 tahun lagi, berjalan di Akasuka seolah aku yakin Jogjakarta hanya butuh 3 tahun lagi agar menjadi seperti ini Berdiri di Subway level 3, seolah aku yakin, hanya tinggal kemuan Indonesia dapat mewujudkannya.

Percayalah, kita belum terlalu tertinggal, ada sebuah optimisme pada hati ini bahwa kita punya sumber daya manusia dan alam yang luar biasa, aku yakin selama hati kita punya kemauan dan cinta kita pada bangsa ini selalu terjaga.. yakinlah harapan itu selalu ada. Kita pasti bisa,  Indonesia pasti bergerak, berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa yang lain. Bersama-sama kita yakin karena keyakinan adalah modal pertama bagi kita tuk berubah, jaya terus bangsa ku, aku cinta Indonesia…

Mr. Dugo dan Harapan akan sebuah tatanan dunia yang lebih baik (Tokyo Love Story 1)

Dear Frieds, from today i will start to write my experience visiting Tokyo , there’s lot of great things to share, not about the greatness and moderness of Tokyo but the soul of Tokyo..
(i will write in Indonesia first then i will try to write the english version)
First Day, 4 Oct..
Ini penerbangan pertamaku ke luar negeri, dan aku harus pergi sendiri ke Tokyo tanpa dosen atau teman.. aku sangat gugup ketika sampai di Bandara narita..aku sempet nyasar pula but its ok..
Aku naik bis airport ke TCAT di mana mahasiswa Nodai menungguku, dan perjalanan satu jam itu menjadi hal yang begitu berkesan dan memberiku arti untuk apa aku harus ke Tokyo kali ini..
Bis terlihat kosong jadi aku duduk di barisan paling depan dari Bis agar bisa melihat Tokyo lebih jelas. Tidak beberapa lama bis berhenti di salah satu terminal dan kulihat banyak orang naik. Bis mulai penuh dan kemudian satu orang bule menoleh2 mencari tempat kosong, dan that it is, right beside me..
awalnya ku nervous, tapi ya daripada diam dan melewatkan kesempatan ini maka aku coba sapa dia.. “hmmm.. Good Morning sir…”. Awalnya aku ga expect dia akan merespon, tapi ternyata dia bukan sekedar merespon, di awali dengan berkenalan singkat, dia dari belanda dan kerja di tokyo, kemudian dia memberikanku sesuatu yang tak akan pernah kulupakan…
Rekan-rekan semua, sadarkah kita bahwa saat ini dunia berada dalam jalan yang tidak benar? atas nama perkembangan ekonomi kita merusak bumi, demi alasan bisnis kita merusak lingkungan tempat kita tinggal. Semuanya bergerak atas nama globalisasi sehingga semua orang harus menjadi sama, seluruh dunia dipaksakan menerapkan sistem ekonomi kapitalis yang menggunakan GNP untuk mengukur pertumbuhan, merayu2 investor asing dengan berbagai cara dan membiarkan sektor riill terus menderita. GNP indonesia naik, tapi kemiskinan bertambah.. do you realize there is something wrong with this economic system? He said that in Bhutan there is no GNP but there is HDP (Happiness national Product)  , yang mengukur seberapa baagia mereka hidup dan bukan sekedar seberapa kaya.
Rekan-rekan semua, do you ever realize that our world moving too fast? imagine if you are driving a car in a highway and you drive with maximum speed, is it danger? yes it is because maybe you dont have enough time to see many sign and warning in the road so you maybe not now if there is a danger in front of you. It is like what happen with today economic crisis in America, there is many sign that already warn them that this economic system have a weak fondation, bukan orang sembarang yang bilang, orang terkaya kedua dan investor amerika sendiri yang menyatakannya. Tapi mereka tak menggubrisnya sehingga runtuhlah ekonomi meeka saat ini dan mereka menyesalinya. Pertanyaannya adalah, hal yang sama terjadi pula pada kasus global warming saat ini, apakah kita akan terlambat menyadari pertanda ini? atau perlu sampai kita tenggelam hingga kita mempercayainya..
Sistem ini harus digantikan, jika terus dibiarkan uang akan menhancurkan dunia tempat kita hidup. Harus ada yang mengganti, tapi bukan menawarkan “kembali ke masa lalu”, harus ada sebuah system alternatif, sistem seperti yang diperkenalkan oleh Muhammad Yunus dengan Gramen banknya, Social Entrepreneur, sistem yang dengannya manusia bisa hidup berdampingan mesra dengan alam.
Rekan-rekan, berhentilah berpikir bahwa kita hidup diatas bumi yang di warisi dari orang tua kita. Mulailah berpikir bahwa ini adalah titipan anak2 kita kelak..mereka yang juga membutuhkan bumi untuk tempat mereka tinggal… jika bukan kita..lalu siapa lagi yang akan mencintai bumi ini…
(aku juga dapet kuliah singkat dari Mr. Dugo tentang 7 habitsnya stephen coveys, filosofi hidupnya, tentang sosok barack obama.. its also great and i will write it separately..becaouse its already 00.00 see you)

Nikmati Rozzelt… Sehat Menyegarkan

Rosella, Hibiscus sabdarifa merupakan herba tahunan yang memiliki batang, kelopak dan mahkota dengan warna merah. Tanaman ini salah satu anggota famili Malvaceae. Habitat asinya terbentang dari daerah India sampai Malaysia. Namun tanaman itu sekarang telah tesebar di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Secara tradisional masyarakat dunia telah memanfaatkannya baik sebagai makanan maupun minuman. Di India Barat dan Amerika tropis, kelopak rosela diolah menjadi minuman dengan sebutan summer drinks of Mexico. Di Mesir Rosella dikonsumsi sebagai minuman dingin di musim panas dan minuman hangat di musim dingin. Karena tingginya kandungan protein yang terkandung, rosella di beberapa negara pula kerap menjadi salad ataupun sayuran yang dimakan langsung dalam keadaan segar.

Rosella sebagai panganan, secara ilmiah telah terbukti mengandung beberapa manfaat yang baik bagi kesehatan. Kandungan pigmen Antocyanin (pemberi warna merah) yang dimilikinya mencapai 2% (Maryani, 2005). Tingginya kandungan ini menyebabkan rosella menjadi sumber antioksidan bagi tubuh untuk melawan radikal-radikal bebas yang berada disekitar kita baik dari polusi, BTP non food grade sampai minyak jelantah. Kemampuan ini sangat penting mengingat radikal bebas yang memasuki tubuh kita dapat menyerang ikatan hidrogen dari struktur DNA yang lebih lanjutnya dapat berpotensi menyebabkan berbagai masalah mulai dari keriput kulit akibat sel yang rusak sampai kanker karena sel yang termodifikasi.

Kelopak Rosella, bagian yang digunakan untuk minuman, mengandung sejumlah asam amino yang penting bagi tubuh. Asam amino tersebut antara lain arginin, cystein, histidine, iso leucine, leucine dsb. Kandungan protein yang dikandung mencapai 7,9% berat kering pada tiap kelopak bunganya (Maryani, 2005).

Selain sebagai sumber antioksidan dan protein, rosella juga berperan untuk terapi hipertensi. Hasil uji klinis pada manusia menunjukkan bahwa kelopak rosella yang mengandung 9.6mg Antosianin mampu menurunkan tekanan darah yang tak berbeda nyata dengan pemberian captopril (obat penurun hipertensi) 50 mg/hari (Herrera-Arellano, 2004). Haji Faraji (1999) menemukan bahwa terdapat penurunan tekanan darah sistolik sebesar 11,2% dan diastolik sebesar 10,7% setelah diberi rosela selama 12 hari pada 31 penderita hipertensi sedang daibanding kelompok kontrol. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan khasiat rosella dalam memperbaiki kerusakan hati(Ali, 2003), mencegah terjadinya atherosklerosis dengan menurunkan kadar LDL (kolestrol jahat (Chen, 2003), dan menurunkan waktu transit intestinal hingga 13-35% (Salah, 2002).

Ternyata alam memberikan kita bukan sekedar manfaat kesehatan dari tanaman ajaib ini namun juga rasa yang begitu enak dan menyegarkan. Rasa asamnya sangat lembut karena didominasi oleh asam malat (yang jug abanyak dijumpai pada anggur). Selain itu warna merahnya sangat eye cathing sehingga tidak perlu lagi pewarna buatan untuk membuatnya menarik. Maka tidak heran bila kita menyebutnya sebagai minuman sehat menyegarkan.

Untuk menghadirkan semua kebaikan dan kesegaran rosella itu maka kami menawarkan kepada Anda produk Rozelt. Nama ini merupakan akronim dari Rozzel (rosella dalam bahasa latin) dan Tea karena minuman ini merupakan ekstrak alami kelopak rosella. Kami berkomitmen hanya memberi yang baik untuk Anda sehingga kami menyuguhkan produk ini tanpa pewarna sintetik, pemanis buatan maupun pengawet yang berpotensi merugikan kesehatan Anda dalam jangka panjang. Formulasi yang kami temukan telah memberikan citarasa unik dan lebih nikmat daripada sekedar ekstrak rosella. Dengan harga terjangkau kami yakin Anda akan mendapat manfaat yang optimal dengan mengkonsumsi minuman ini tiap harinya. Silakan rasakan, dan temukan sensasi baru dari Rozelt minuman segar menyehatkan.

Kepemimpinan Perempuan

Untuk kesekian kalinya sepertinya kani akan membuat tulisan yang agak sedikit kontroversial, tapi rasanya ingin sekali dituliskan, mudah2an ada masukan atau kritik karena pendapat ini juga masih debatable dan aku openmind untuk menerima sanggahan.

Terinspirasi karena kasus kemaren ketika kebetulan saya diundang sebagai pembicara pada acara temu etos nasional 11 universitas di Lembaga Pengembangan Insani Parung, kebetulan saya di panelkan oleh seorang presiden mahasiswa ITB yang ternyata wanita (kampus pria yang dipimpin oleh wanita) -> kebalikan sama IPB :) . Dari awal sampai akhir semua berlangsung lancar sampai tiba pada termin pertanyaan terakhir, seorang mahasiswa beralmamater biru berlogo penggebuk kasur (baca : IPB) berdiri dan berbicara :

“Mbak, bagaimana Anda bisa menjadi seorang Presma padahal pemimpin wanita dilarang oleh agama”

Deg.. saya langsung merasa suasana jadi ga enak, ga kebayang seorang wanita yang sudah jauh2 dari Bandung bersedia datang namun kemudian harus menerima pertanyaan yang agak “gender” seperti ini dihadapan umum.., dari caranya menyampaikan aspirasi pun saya sudah memberi nilai minus pada adik kelasku ini, mbok ya bisa disampaikan secara pribadi… tapi ya sudahlah mungkin dia begitu penasarannya hingga menanyakan pada kondisi seperti ini.

Jujur, saya berpendapat bahwa pertanyaan seputar agama seperti ini mungkin bukan sesuatu yang telah ia persiapkan sebelumnya sehingga menjadi agak canggung dalam menjawabnya. Akhirnya walaupun pertanyaan tadi tidak disampaikan untukku namun aku meminta izin untuk menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaannya..

“Izinkan saya untuk sedikit menanggapi pertanyaan tentang kepemimpinan wanita tadi, sebelumnya saya sampaikan bahwa ucapan saya ini masih debatable jadi silakan saja bila ada yang ingin menyanggah.

Adek-adekku sekalian, terus terang saya adalah orang yang terus mendorong lahirnya kepemimpinan wanita. Ketika saya memimpin himpunan, lebih dari setengah kordinator dan ketua penitia adalah wanita. Dan saya sangat menyayangkan sikap akhwat IPB yang lebih sering menolak posisi pemimpin dengan alasan klasik.. yang cowok dulu aja..
Memang saya tahu ada hadits yang menyatakan bahwa apabila suatu negara dipimpin wanita maka dia akan hancur, tapi bukankah di Alquran (silakan cek sendiri) Allah menceritakan tentang terdapatnya sebuah negeri pada zaman nabi Sulaiman yang sangat makmur dan sejahtera yang dipimpin oleh seorang wanita, Ratu Balqis, artinya ada suatu makna kontekstual yang terdapat pada hadits itu yang tidak bisa kita artikan secara textual semata (harfiah). Bukankan fatwa Imam Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa wanita boleh memimpin selama bukan memimpin sebuah khilafah islamiyah negara muslim sedunia (silakan di cek lagi kalo tidak percaya).
Tentu saya juga setuju bila disebutkan bahwa tugas utama wanita adalah menyiapkan generasi islam ke depan lebih baik, tapi bukan berarti kita harus melarang wanita menjadi pemimpin.. ga usah lah kita menghalangi mereka untuk maju, mereka punya kemampuan luar biasa sebagai pemimpin, terimakasih”
(yang kemudian diiringi tepuk tangan dari kaum akhwat etos)

Saya tidak akan bersikap setengah-setengah atau banci, saya menarik garis tegas dengan menyatakan bahwa saya tidak setuju dengan pernyataan ini:
“Selama masih ada laki-laki yang mampu, sebaiknya kaum pria dulu yang jadi pemimpin”
statement ini terlalu tendensius meletakkan posisi pria seolah selalu lebih baik dari wanita
Saya lebih setuju pernyataan berikut :
“Siapapun yang terbaik, apakah dia pria atau wanita maka dia berhak untuk maju”

Mungkin potongan pidato Obama di Egypt sangat baik untuk mewakili maksud saya ini :

“Bahwa isu persamaan hak wanita adalah hal penting yang harus kita sadari, di beberapa negara umumnya wanita tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal kepemimpinan, pendidikan dan kesempatan kerja. Bukan berarti saya memandang sebelah mata kepada wanita yang memilih mengabdi di rumah dan mengurus anak-anaknya, saya sangat mendukung profesi ibu rumah tangga dan itu membanggakan, TAPI SELAMA ITU MEREKA YANG MENGINGINKAN DAN MEMUTUSKAN SENDIRI bukan karena sistem yang mengekang mereka.”

Saya sangat paham bahwa beberapa orang mengatakan ini adalah pembangkangan terhadap nilai-nilai islam, tapi saya setuju dengan Hanna bahwa islam ada sebuah “way of life” bukan kekangan untuk meraih kesempatan yang sama termasuk dalam hal kepemimpinan.

Saya mohon maaf atas nuansa provokatif dan kontroversial dalam blog ini, dan saya tegaskan tulisan ini masuk salah satu tulisan saya dengan grade mutu buruk dari segi analisa karena tidak didahului dengan penelaahan baik secara qauliah maupun kauniah. Oleh karena itu saran kritik sangat diharapkan untuk saling berbagi ilmu.

Sumpah Seorang Pemuda

“Hiduplah Indonesia Raya”….

masih teringat betapa ku selalu merinding ketika dulu selama mengikuti PPSDMS (program beasiswa) menyanyikan lagu kebangsaan ini, kemudian diikuti bait-bait idealisme kami

“Betapa Kami Ingin Bangsa Ini mengetahui

Bahwa Mereka Lebih Kami Cintai

daripada diri kami sendiri

……

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia

Tidak menharapkan harta benda atau imbalan lainnya,

Tidak juga popularitas

Apalagi sekedar ucapan terimakasih

…..*

Kini sudah 2-3 tahun lama nya semenjak terakhir kali kami digembleng bersama..

juga sudah lewat 2-3 tahun pula semenjak Mrs. dan Mr. Hara (almarhum, founder Goodwill Indonesia, http://www.yayasan.info/)

menggetarkan perasaan para anak-anak harapannya dengan nyanyian “Goodwillers” menyampaikan

harapan akan future leaders bagi bangsa ini, dan aku termasuk salah satu yang terpatung menerima pesannya.

Tapi Ya Allah, hingga hari ini, hari dimana bangsa ini mengenang perjuangan para pemudanya, seorang kani masih hanya seseorang yang “tidak signifikan” bagi bangsa ini. Yang bahkan seharusnya malu berbicara tentang bangsa ketika mengatur diri dan meraih cita-citanya sendiri pun tak kuasa.

Oh Tuhan, betapa berat dada ini mengemban harapan-harapan mereka yang telah menginvestasikan zakat, harta dan asanya pada hambamu ini namun tetap tak dapat menghasilkan apa-apa.

Sedih dan merasa tak berguna…

Namun ku yakin ini bukan akhir segalanya.

Kuingin wajah ini tetap bisa menatap ke depan dengan penuh cinta dan keyakinan,

“Esok Diriku kan lebih baik, demi bangsa ini, Aku Bersumpah!!”

Kawanku, Selamat Hari Sumpah Pemuda… Mari kita wariskan semangat mereka…

*

YANG KAMI HARAPKAN ADALAH

TERBENTUKNYA INDONESIA BARU YANG LEBIH BAIK DAN BERMARTABAT

SERTA KEBAIKAN DARI ALLAH SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA”

(Versi lengkap http://ppsdms.org/tentang-kami/idealisme-kami)

Bagi Anda yang berpikir menguatnya rupiah itu bagus

“Cetuung”… suara blackberry itu mengagetkanku di malam buta, kulihat sejenak ternyata email dari salah satu buyer Russia. Dan dengan mengernyitkan dahi kubaca,
“Kani, you price is too high, it’s not workable for me, please make it lower”.
Fiuhhh…

.: Pagi harinya :.

Kuambil bagian pembahasan ekonomi lebih awal dari bagian headline pada Koran Kompas langgananku. Ku duduk dengan menebak-nebak dalam hati… “berapa ya kira-kira harga dollar saat ini”. Dan ternyata kini kian menguat Rp. 9300/$, nilai terkuat dalam beberapa bulan terakhir ini. Dan aku cuma bisa bergumam, “well it’s disaster”

Dear Blog, dulu waktu lagi senang-senang nya beli komponen komputer, menguatnya rupiah adalah kegembiraan. Bagaimana tidak, harga2 pasti jadi lebih murah di glodok dan sekitarnya. Makanya aku pikir dulu kejadian ini (penguatan rupiah, red) adalah pertanda ekonomi Indonesia akan membaik. Lihat saja dari redaksi katanya saja sudah “menguat”.

Ternyata pikiranku salah. Saya berani bertaruh, bukan saya sendiri yang berpikir begitu, pasti kamu juga kan pembaca (hayo ngaku!!). Well karena itulah aku membuat tulisan ini.

The fact is, tren menguatnya rupiah ini adalah ancaman bagi perekonomian nasional. Soalnya bakal menekan nilai ekspor dan sebaliknya memperbesar impor. Lha kok bisa? soalnya secara tidak langsung, menguatnya rupiah ini akan membuat harga produk di pasar Indonesia di pasar Internasional akan menjadi mahal dan tidak kompetitif.

Gampangnya bisa dicontohkan kayak gini :
Semua cost perusahaan adalah rupiah based seperti harga raw material, gaji, proses dll. Misalnya total semua cost untuk memperhitungkan HPP adalah Rp 10.000/kg coba aja bandingkan :
kalo rupiah Rp. 10.000 maka harga produk di pasar international adalah US$ 1/kg
tapi kalo rupiahnya Rp 9.300 jadinya kan harganya US$ 1.08.kg
walaupun bedanya kayanya kecil (cuma 8 cent) tapi kan kalo ekspor ga kaya emak lo belanja ikan di pasar yang paling beli sekilo atau dua kilo, tapi sekali ekspor tu biasanya 22 ton!! yang artinya selisih itu setara 0.08×22.000×9300 alias seharga 1 motor jupiter mx (ups nyebut merek).

Kalo kondisi ini berlangsung lama maka akan dipastikan akan memperbesar defisit Balance of Payment (APBN) Indonesia yang berujung pada utang lagi utang lagi.

Utang menjadi masalah tersendiri. Semakin besar utang kita, apalagi kepada IMF, maka semakin besar pula bagian kedaulatan negeri ini yang digadaikan. Soalnya biasanya syarat utang disertain permintaan-permintaan politis untuk menghilangkan restriksi perusahaan asing tuk mengeksplitasi pasar Indonesia. Akhirnya yang paling menderita adalah industri dalam negeri akan terkena double effect dari kondisi ini.

Dalam hal fluktuasi Forex (foreign exchange) ini, mungkin pemerintah kita dapat belajar dari negeri Cina (sebagaimana hadist rosul). Salah satu faktor mengapa Barack Obama selalu marah2 ke cina, eh salah maksudnya harga-harga made in China murah2 di pasar International adalah karena….. China mempermainkan mata uang Yen nya. Sedemikian rupa pemerintah komunis itu membuat harga yen selalu rendah sehingga komoditas mereka bisa meraja lele eh lela (btw ternyata orang Eropa suka ikan lele juga lho:). Walaupun secara formal mereka tidak pernah mengakuinya. Memang juga sih terdapat faktor lain selain efisiensi, harga labour yang murah (sebenarnya mirip Indo), dan kualitas barang yang meragukan bahkan meracunkan (inget kasus Susu?).

Tapi terlepas dari itu, penulis hanya ingin memberi saran pada pemerintah, sudah saat nya kita mulai menjadikan ekspor sebagai prioritas. Karena China saja dengan kondisi demografi seperti kita dapat bengkit salah satunya ditopang dengan nilai ekspor mereka yang terkenal dengan “Made in China”. Jadi kayaknya giliran kita dehh… :loveindonesia (eh bukan kaskus ya?? :)

disclaimer :
- oh ya daripada dosa, mau jujur aja kalo gw belum punya blackberry dan juga buyer Russia… cuma buat pemanis cerita aja

Apakah Anda Bahagia bila Rupiah menguat? Saya sih tidak…

Jika Anda Iya, maka wajib baca tulisan ku yang satu ini.

Back to the past, before Asia monetary crisis in 1998, our Rupiah value is settled around Rp 2,500 against US$ 1. But when the crisis come, with many mess and destruction within, everyone shocked with the weakening of Rupiah. It’s value suddenly drop from 2,500 to reach it’s highest value ever, Rp 16,000/US$ more then six times weaker from it’s default states for many years under Soeharto regime.

Still flashing in my memory, every electronic, computer and another high tech shop are worried about their business due to higher price that lead to significant demand drop. Based on that experience we usually think that the when Rupiah weakened it’s reflect our national economy in bad condition. If you think with the same way as I mentioned, just like the way I also thinking in the past, then you thought wrong.

Instead…More Lower our rupiah value, mean better for our national economic condition. How can? because it’s mean our export capacity will be increased and decrease our import. This condition surely good for our national Balance of Payment and National Reserve (cadangan devisa).

How can lower value of Rupiah can drive our national export?
Now try to imagine, if one exporter company buying raw material in Indonesia, for example for seafood Industry buy Tilapia (nila) Fish from farmer with price Rp 10,000/kg , it’s will be valued in dollar :

US$ 1 if our rupiah is undervalue (Rp 10,000/US$), or
US$ 1.05 if our rupiah in strong state as now (Rp 10,500/US$)

And so what with this different price?
Come on guys, it’s mean our export product will be cheaper in international market and surely more competitive. This advantage will drive the quantity of product sold in International market when rupiah is undervalue. The opposite explanation can be applied when rupiah is strong.

This is one of the biggest general secret why China can sell with low price everywhere. Beside their low cost labor, their government also played their currency (Yuan/Renminbi) so that undervalued against US Dollar. Based on my explanation about seafood export you can imagine how much they can reduce the price with playing their currency. That’s why Barrack Obama always shouted to China to stop playing their currency…. to be continued…

Lembaga Sensor di Ujung Tanduk

Permintaan untuk meniadakan Lembaga Sensor Film Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dimotori oleh sineas-sineas muda merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Hal ini dikarenakan pada beberapa tahun terakhir kondisi perfilman Indonesia mulai menunjukkan geliat kehidupan setelah lama mati suri. Namun tak disangka tatkala ruh perfilman mencoba untuk bangkit maka yang divonis sebagai penghambat utama perkembangannya adalah Lembaga Sensor Film.

Sebenarnya alasan permintaan MFI untuk membubarkan LSF cukup masuk akal. Mereka berpikir bahwa selama ini LSF terlalu arogan dalam menghilangkan beberapa fragmen film mereka. Bagi kita para penonton maupun LSF mungkin hal tersebut tidak terlalu penting, namun bagi mereka para sutradara, artis dan produser, penghilangan sedikit bagian saja merupkan pencederaan serius terhadap hasil karya kebanggaan mereka. Betapa tidak, pasti butuh tidak sekedar waktu, biaya dan usaha untuk menampilkan potongan film mereka yang disensor. Apalgi selama ini mereka hanya bisa pasrah tanpa bisa mengajukan protes maupun menghadirkan pengacara demi membela buah karya mereka yang dihapus. Namun yang paling penting bagi mereka, LSF adalah symbol dari “pemasungan” terhadap kreativitas dan seni yang selama ini mereka agung-agungkan yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan film Indonesia.

Sebagai pengganti LSF mereka menawarkan ide untuk mendirikan lembaga klasifikasi dan rating film. Hal ini berangkat dari pemikiran mereka bahwa saat ini yang diperlukan bukanlah penyensoran tapi pemberian rating. Dengan hal itu diharapkan masyarakat tahu mana film yang sesuai bagi umur mereka dan mereka mengklaim bahwa system ini dapat sekaligus mencerdaskan masyarakat dalam mengambil keputusan. “anak-anak tidak lagi dapat menonton film dewasa dan orang dewasa tidak pula kehilangan haknya untuk menonton film sesuai kelasnya”, ujar mereka. Dalam keyakinan mereka, kewajiban mendidik anak-anak adalah tanggung jawab orang tua bukan tanggung jawab para sineas film. Orangtua lah yang seharusnya yang seharusnya dapat menjaga anaknya untuk tidak mengkonsumsi film-film dewasa bukan mereka yang harus mengorbankan karya mereka.

Namun dengan melihat kondisi bangsa kini kita juga harus bijak dalam memandang permasalahan ini. Kita memaklumi keberatan MFI atas penyensoran film mereka tetapi kita juga tak bisa menutup mata bahwa dengan hadirnya LSF saat ini pun betapa banyak film Indonesia yang secara lugas menampilkan adegan-adegan sensual dan kekerasan. Sebagai contoh perhatikan saja film “love” dan “kawin kontrak” yang belum lama beredar. Memang benar seks merupakan daya magnet yang besar untuk menarik penonton. Karena memang secara naluri, dan didukung oleh riset pasar, manusia (termasuk masyarkat Indonesia) memiliki kecenderungan ke sana. Namun kita juga tak dapat menutup mata bahwa di sisi lain kita juga berbahagia dengan hadirnya film-film berkualitas seperti “Nagabonar jadi Dua” atau “Ekskul” (terlepas dari plagiatismenya) yang tidak harus menampilkan lekuk-lekuk tubuh maupun kekerasan namun tetap dapat meraup banyak penonton.

Berangkat dari keyataan tersebut izinkan saya memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, perlu adanya kejelasan dari pihak lembaga sensor film mengenai karakteristik potongan film yang akan disensor sehingga para sineas tak perlu susah payah membuat bagian film tersebut. Kedua, perlunya pengaturan yang tegas dalam bioskop untuk melarang remaja maupun anak-anak untuk mengkonsumsi film dewasa. Ketiga, perlunya para sineas muda untuk menyadari bahwa terkadang kita tak perlu didikte oleh keinginan pasar untuk menonton film-film porno, tapi saatnya film-film kita justru mendikte dan mendidik pasar. Janganlah menjual moralitas bangsa demi pundi-pundi uang para kapitalis. Saat nya kita bahu membahu demi membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,353 other followers