Sedikit agak malu memang ketika harus menulis blog ini, tapi dari dulu ingin menuliskan perasaan ini tapi akhirnya hari ini kutuliskan juga.
Inspirasi kisah ini berasa dari ekspresi hampir semua orang yang terheran-heran kalau saya bilang :
” Saya dan Nanda sudah menjalin hubungan jarak jauh lebih dari 7 tahun semenjak SMA”
Banyak dari mereka heran, ada yang takjub dan spontan bilang “waaa hebaat, kok bisa”, ada juga yang bilang “wah keren, tapi lo sempet selingkuh kan” bahkan ada yang bilang “Nanda nya selingkuh tuh di sana”. Selain senyum, biasanya saya jawab dengan ringan “Ga tau kenapa yah”, atau “Ga da yang mau diselingkuhin sih” atau alasan favorit saya : “yah, maklum lah sama-sama ga laku, jadi bisa awet”. Untuk alasan yang terakhir ini biasanya nanda nya langsung ngeles, “Enak aja, mau dikasih list cowo yang nembak ade?” hi3x.
Namun alasan sebenarnya jauh lebih dalam, dan dengan maksud tertentu ingin rasanya saya share di sini.
Bahwa pria selalu identik dengan kata “Selingkuh” itu benar adanya, dan mungkin itu pula asal ekspresi heran mereka ketika mendengar LDR 7 tahun kami. Secara pribadi sebagai lelaki saya tidak mau munafik bahwa begitu banyak godaan di luar sana yang seringkali menggoyahkan perasaaan ini sehingga kadang membanding-bandingkan dari berbagai aspek, mulai dari kecantikan, kecerdasan maupun keshalehan. Namun beberapa paradigma yang kupegang mampu membantuku untuk bisa sampai pada tahapan ini. Paradigma inilah yang ingin aku share dan mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pasangan yang sedang merajut hubungannya. paradigma-paradigma ku adalah :
Satu, “Pada dasarnya semua Pria adalah brengsek tapi yang paling brengsek adalah mereka yang mempermainkan wanita”. Saya sebenarnya heran ketika memiliki seorang teman yang dengan bangganya menceritakan kisah perselingkuhannya. Memang banyak juga di dunia ini pria-pria sok ganteng (dan memang bener sih beberapa diantara mereka yg ganteng beneran) dengan mudahnya berganti pasangan semudah mereka berganti baju. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa adalah kewajaran bila seorang pria selingkuh atau pun gonta-ganti pasangan. Namun saya memiliki pandangan tersendiri, buat saya wanita adalah sosok yang harus dihargai dan dijaga perasaannya sehingga tindakan selingkuh maupun hal-hal yang menjurus ke sana secara otomotis menimbulkan perasaaan bersalah yang teramat sangat dalam hal ini. Saya tak ingin sok suci dengan mengatakan bahwa saya tidak pernah terpikir untuk selingkuh atau berkhianat, bahkan hampir sekali saya setahap lagi untuk melakukan hal keji itu. Namun kembali, perasaan bersalah dan paradigma “brengsek” itu membawa saya kembali, bahkan kala itu saya menangis karena apa yang telah kulakukan pada pasanganku.
Jadi, selama kita tidak mematri dalam paradigma kita bahwa selingkuh dan gonta-ganti pasangan adalah sesuatu yang “brengsek” maka kita belum siap untuk serius menjalin hubungan.
Dua, “Ada seseorang nun jauh di sana yang menungguku”. Yang kedua ini adalah kunci dari hubungan LDR kami. Alih-alih menjadikannya alasan untuk mencari wanita lain, kita bisa menggunakannya sebagai pemerkuat simpul hubungan dengan pasangan kita. Saya adalah penganut keyakinan bahwa “Yang baik untuk yang baik” sehingga jika Anda ingin perasaan Anda dihargai pasangan maka kita harus menghargai mereka, ketika Anda setia maka yakinlah pasangan Anda akan setia. Hal ini lah yang selalu memadamkan api asmaraku yang seringkali tumbuh ketika ada wanita yang mendekati atau ada wanita yang terlalu cantik untuk tidak didekati
. Saya selalu yakin bahwa dia akan setia dan menunggu selama saya melakukan hal yang sama.
Jadi, Selama kita tidak yakin bahwa dia akan setia dan terus menunggu kita, maka sisi busuk akan selalu menggarayangi kehidupan asmara, so.. keep positive thinking bro..
Ketiga, “Kita adalah apa yang kita pikirkan”. Alasan ketiga ini adalah hal yang paling powerful sebagai senjata saya untuk tetap setia. Dari dulu saya selalu tidak mau tunduk dengan yang namanya emosi maupun perasaan karena saya yakin bahwa mereka semua adalah kita yang mengendalikannya. Semuanya bermula karena waktu SMP dulu saya sempat membaca buka berjudul “Kekuatan Pikiran” yang pada intinya mengatakan bahwa banyak hal yang bisa diperolah jika kita bisa mengendalikan perasaan kita. Oleh karena itu saya yakin bahwa Marah, Sedih, Cinta, Kesal, Bahagia adalah “Pilihan” yang dapat kita kendalikan. Perasaan itu memang muncul secara refleks atau spontan ketika kita mengalami sesuatu (misal: didekati teman cewe yang cantik) tapi ekspresi atau tindakan lebih lanjutnya adalah kita yang menentukkan. Kita dapat terus berlarut-larut dengan perasaan itu dan bahkan memupuknya atau kita memilih logika kita yang berperan dengan mengingat bahwa kita sudah memiliki pasangan. Saya paling tidak respect ketika melihat ada pria yang terlalu berlebihan terbuai dengan cinta sehingga rela melakukan apa pun bahkan hal yang bodoh untuk mendapatkan “kecengannya”. Bukan apa-apa, saya tau bahwa itu adalah perjuangan mereka untuk mendapatkan orang yang mereka inginkan, namun ketika sudah berlebihan pun terlihat tidak pantas. Sebagai lelaki harusnya kita juga perlu memiliki harga diri dalam menentukkan pasangan kita.
Jadi, kata orang bijak : Kita tidak akan bisa menaklukan orang lain jika kita tidak bisa menaklukan diri kita sendiri.
Keempat, dan terakhir, “Perbanyak aktivitas “non asmara” kita”. Tak dapat dipungkiri bahwa PikTor (baca: pikiran kotor) seringkali muncul ketika kita sedang bengong atau tidak ada kerjaan. Selama kita bisa terus tenggelam dalam aktivitas positif kita semacan berorganisasi, meniti karir ataupun belajar maka waktu yang kita sediakan untuk “mempertimbangkan” melakukan hal yang buruk pun makin sedikit. Selingkuh, gonta-ganti pasangan dan tindakan “brengsek” lainnya menyerap energi dan waktu yang sangat signifikan dari diri kita, oleh karena itu akan luar biasa hasilnya jika kita bisa mengalihkan energi itu untuk hal lain yang lebih positif.
Jadi, semua orang mendapatkan 24 jam dalam sehari, perbedaan orang yang berhasil dan tidak adalah apa yang mereka lakukan selama 24 jam itu.
That’s it…
Sebagai khatimah (penutup) dari tulisan ini, saya ingin kembali menegaskan bahwa saya tidak bermaksud sok suci, saya pernah dan hampir pernah selingkuh dengan wanita lain. Namun kesalahan dan kebodohan itulah yang membuatku merasa teramat sangat bersalah sehingga menjadi pelajaran untuk meniti masa depan.Who knows, Mungkin suatu saat nanti saya akan termakan sendiri oleh tulisan saya ini (seperti AA gym yang termakan omongannya sendiri tentang poligami), namun saya memilih untuk melakukan hal yang terbaik untuk menjaga hubungan ini seraya berdoa Naudzubillahi Min Dzalik (semoga saya dilindungi Allah dari hal seperti itu (selingkuh)).